Dokter Anak Ingatkan Dampak Kurang Stimulasi Jika Bayi Terlalu Sering Digendong

- Kamis, 19 Februari 2026 | 13:15 WIB
Dokter Anak Ingatkan Dampak Kurang Stimulasi Jika Bayi Terlalu Sering Digendong

Menggendong si kecil memang punya daya magis tersendiri. Rasanya menenangkan, bukan cuma buat anak, tapi juga buat kita, orang tuanya. Momen itu jadi ajang bonding yang efektif, apalagi saat dia masih bayi. Inginnya selalu dekat, memastikan dia aman dan nyaman dalam pelukan.

Tapi di sisi lain, tumbuh kembang anak juga butuh stimulasi yang tepat. Mereka perlu ruang. Ruang untuk bergerak bebas, meraba, merangkak, hingga akhirnya mencoba berdiri dan melangkah. Kalau terus-terusan digendong, ada konsekuensi yang bisa dialami si buah hati.

Lalu, Apa Dampaknya Kalau Terlalu Sering Digendong?

Menurut penjelasan dr. Herbowo Agung, Sp.A(K), dokter spesialis anak, kebiasaan ini berpotensi membuat anak kurang mendapat stimulasi sensorik dan motorik.

“Anak jadi takut mencoba karena sensorinya kurang terlatih. Motoriknya pun bisa kurang optimal,”

Begitu kira-kira penjelasannya suatu waktu.

Intinya, ketika anak jarang diberi kesempatan mengeksplorasi lingkungan misalnya karena orang tua takut dia kotor atau jatuh bisa tumbuh rasa ragu dalam dirinya. Dia enggan mencoba hal baru. Bahkan, dalam beberapa kasus, kemampuan berjalannya bisa sedikit lebih lambat, sederhana saja: karena kurang latihan.

Namun begitu, bukan berarti Anda sama sekali tidak boleh menggendong, ya. Jangan salah paham. Menggendong tetaplah penting untuk membangun ikatan dan rasa aman yang mendasar bagi anak.

Kuncinya cuma satu: keseimbangan. Coba perhatikan beberapa hal ini:

  • Gendonglah saat anak memang butuh rasa aman atau sedang rewel.
  • Tugas kita adalah mendampingi, bukan menggendong terus, saat dia belajar bergerak.
  • Dan yang tak kalah penting, siapkan lingkungan rumah yang aman buat dia bereksplorasi.

Soalnya, di balik setiap langkah kecilnya yang mungkin terlihat biasa, ada proses belajar yang sangat besar sedang berlangsung.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar