Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali memanas. Kali ini, peringatan datang langsung dari Gedung Putih: Iran dinilai perlu bersikap "bijaksana" dengan segera mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Peringatan ini meluncur tak lama setelah Presiden Donald Trump sekali lagi melemparkan isyarat serangan militer ke arah Iran.
Menurut sejumlah saksi, situasi memang makin runyam. Bulan lalu, gelombang demonstrasi antipemerintah di Iran ditanggapi dengan keras oleh otoritas setempat. Trump merespons dengan ancaman militer berulang, yang kemudian diikuti oleh perundingan tidak langsung antara kedua negara. Oman bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan yang dilaporkan masih berlangsung ini.
Namun begitu, jalan menuju kesepakatan jelas tak mulus. Upaya negosiasi serupa sebelumnya sudah pernah gagal total. Penyebabnya? Pada Juni tahun lalu, Israel melancarkan serangan mendadak ke wilayah Iran. Peristiwa itu memicu perang singkat namun sengit selama hampir dua pekan antara Teheran dan Tel Aviv. Dalam konflik itu, Washington sendiri sempat terlibat dengan menyerang sejumlah situs nuklir Iran.
Nada dari Gedung Putih terdengar jelas. Sekretaris Pers Karoline Leavitt, dalam briefing dengan wartawan Rabu (18/2) waktu setempat, menyampaikan pesan yang gamblang.
"Iran akan sangat bijaksana untuk mencapai kesepakatan dengan Presiden Trump dan pemerintahannya," ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Hanya sehari sebelumnya, Trump telah mengisyaratkan kemungkinan serangan AS. Isyarat itu ia sampaikan lewat unggahan di Truth Social. Awalnya ia bicara soal kedaulatan Inggris atas Kepulauan Chagos di Samudra Hindia. Lalu, dengan lancar, ia mengaitkannya dengan Iran.
Pangkalan udara Diego Garcia di kepulauan itu, tulisnya, akan sangat dibutuhkan jika Iran bersikeras menolak berdamai.
"Jika Iran memutuskan untuk tidak membuat kesepakatan, maka Amerika Serikat mungkin perlu menggunakan Diego Garcia, dari lapangan terbang yang terletak di Fairford, untuk memberantas potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya," begitu bunyi pernyataannya.
Di sisi lain, laporan dari media-media besar AS seperti CNN dan CBS menambah gambaran suram. Mereka melaporkan pada hari yang sama bahwa militer AS telah disiagakan untuk kemungkinan melancarkan serangan paling cepat akhir pekan ini. Meski begitu, keputusan akhir konon masih ada di tangan Trump. Belum diputuskan.
Suasana menunggu dan ketidakpastian pun menyelimuti. Ancaman menggantung, perundingan berjalan alot, sementara pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah terus berlanjut secara masif. Semuanya menunggu langkah berikutnya dari Teheran atau dari Washington.
Artikel Terkait
Thariq Halilintar Bantah Isu Aurel Dikucilkan, Ungkap Video Lengkap Acara Keluarga
APVI Kritik Pernyataan BNN Soal Vape sebagai Pintu Masuk Narkoba
Penyintas Stroke Ungkap Perbaikan Kesehatan dengan Bantuan Terapi Laser
Polsek Ciputat Timur Dirikan Tujuh Pos Pantau Antisipasi Kerawanan Ramadan