Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Hanya sehari sebelumnya, Trump telah mengisyaratkan kemungkinan serangan AS. Isyarat itu ia sampaikan lewat unggahan di Truth Social. Awalnya ia bicara soal kedaulatan Inggris atas Kepulauan Chagos di Samudra Hindia. Lalu, dengan lancar, ia mengaitkannya dengan Iran.
Pangkalan udara Diego Garcia di kepulauan itu, tulisnya, akan sangat dibutuhkan jika Iran bersikeras menolak berdamai.
"Jika Iran memutuskan untuk tidak membuat kesepakatan, maka Amerika Serikat mungkin perlu menggunakan Diego Garcia, dari lapangan terbang yang terletak di Fairford, untuk memberantas potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya," begitu bunyi pernyataannya.
Di sisi lain, laporan dari media-media besar AS seperti CNN dan CBS menambah gambaran suram. Mereka melaporkan pada hari yang sama bahwa militer AS telah disiagakan untuk kemungkinan melancarkan serangan paling cepat akhir pekan ini. Meski begitu, keputusan akhir konon masih ada di tangan Trump. Belum diputuskan.
Suasana menunggu dan ketidakpastian pun menyelimuti. Ancaman menggantung, perundingan berjalan alot, sementara pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah terus berlanjut secara masif. Semuanya menunggu langkah berikutnya dari Teheran atau dari Washington.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang
Sidang Perdana Tiga Prajurit Kopassus Terkait Pembunuhan Kepala Bank
Arus Tol Menuju Jakarta Padat Usai Libur Panjang Paskah
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%