Selain bangunan utamanya, kompleks ini juga menyimpan bagian lain yang penuh makna: tujuh sumur tua. Sumur-sumur ini di masa lalu bukan hanya sumber air, tetapi juga memiliki nilai spiritual dalam tradisi masyarakat setempat.
Fahrudin, penjaga Padangan Heritage yang juga cicit pengusaha tembakau H. Rasyid, mengenang masa ketika sumur-sumur itu ramai dikunjungi. "Dulu tahun 80-an, air dari tujuh sumur di sini sering dicari orang untuk ruwatan. Memang sangat ikonik pada masanya," tuturnya.
Sebagai keturunan keempat dari keluarga yang terlibat langsung dalam sejarah tembakau daerah itu, Fahrudin kerap menjadi pemandu bagi pengunjung yang ingin menggali cerita lebih dalam. Meski ritual menggunakan air sumur tersebut kini sudah bergeser ke sendang-sendang lain, keberadaan ketujuh sumur itu tetap dirawat sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan kolektif.
Monumen Hidup yang Tetap Berdenyut
Kini, Polsek Padangan tetap menjalankan tugas pokoknya dalam menjaga ketertiban dan keamanan warga. Namun, di balik rutinitas operasional kepolisian, gedung ini berdiri tegak sebagai monumen hidup. Ia menjadi jembatan nyata yang menghubungkan narasi agraris Bojonegoro yang gemilang dengan dinamika kehidupan modern. Keberadaannya mengingatkan bahwa di balik tembok-tembok tua seringkali tersimpan lapisan sejarah yang membentuk identitas sebuah tempat.
Artikel Terkait
Pemerintah Percepat Fasilitas Kesehatan Penunjang IKN di Penajam Paser Utara
Gubernur DKI: Ukhuwah Islamiyah Bisa Cegah Perang Berkepanjangan di Timur Tengah
Politisi Desak Penegakan Hukum atas Intimidasi Petugas Kebersihan di Cengkareng
Cuaca Panas Ekstrem Ancam Kesehatan, Waspadai Panas Dalam hingga Heatstroke