MURIANETWORK.COM - Sebuah bangunan bergaya kolonial di Terminal Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur, kini berfungsi sebagai Kantor Polsek Padangan. Gedung yang berdampingan dengan Padangan Heritage ini bukan sekadar kantor, melainkan saksi bisu kejayaan ekonomi tembakau Bojonegoro di masa lalu. Bangunan ini menyimpan arsitektur khas Belanda dan cerita sejarah yang masih terasa kental hingga kini.
Dari Pusat Tembakau ke Markas Polisi
Fungsi gedung ini telah mengalami transformasi yang signifikan. Pada era keemasannya, tempat ini merupakan kantor sekaligus pusat pengolahan untuk komoditas tembakau dan kapur. Saat itu, Padangan berperan sebagai simpul distribusi utama bagi "emas hijau" Bojonegoro yang terkenal di sepanjang Bengawan Solo. Alih fungsi menjadi kantor polisi tidak menghapus jejak fisik masa lalunya.
Ciri arsitektur kolonialnya masih tampak jelas dan terpelihara dengan baik. Dindingnya tebal, ditopang pilar-pilar kokoh, dengan jendela besar dan langit-langit tinggi yang menjadi penanda zaman. Lantai teraso berwarna cokelat dan hijau zamrud, dipadukan dengan ambang pintu bergaya lama, menciptakan atmosfer yang seakan membawa pengunjung melintas waktu ke era ketika kawasan ini menjadi denyut nadi perekonomian.
Warisan Arsitektur dan Kisah Spiritual
Selain bangunan utamanya, kompleks ini juga menyimpan bagian lain yang penuh makna: tujuh sumur tua. Sumur-sumur ini di masa lalu bukan hanya sumber air, tetapi juga memiliki nilai spiritual dalam tradisi masyarakat setempat.
Fahrudin, penjaga Padangan Heritage yang juga cicit pengusaha tembakau H. Rasyid, mengenang masa ketika sumur-sumur itu ramai dikunjungi. "Dulu tahun 80-an, air dari tujuh sumur di sini sering dicari orang untuk ruwatan. Memang sangat ikonik pada masanya," tuturnya.
Sebagai keturunan keempat dari keluarga yang terlibat langsung dalam sejarah tembakau daerah itu, Fahrudin kerap menjadi pemandu bagi pengunjung yang ingin menggali cerita lebih dalam. Meski ritual menggunakan air sumur tersebut kini sudah bergeser ke sendang-sendang lain, keberadaan ketujuh sumur itu tetap dirawat sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan kolektif.
Monumen Hidup yang Tetap Berdenyut
Kini, Polsek Padangan tetap menjalankan tugas pokoknya dalam menjaga ketertiban dan keamanan warga. Namun, di balik rutinitas operasional kepolisian, gedung ini berdiri tegak sebagai monumen hidup. Ia menjadi jembatan nyata yang menghubungkan narasi agraris Bojonegoro yang gemilang dengan dinamika kehidupan modern. Keberadaannya mengingatkan bahwa di balik tembok-tembok tua seringkali tersimpan lapisan sejarah yang membentuk identitas sebuah tempat.
Artikel Terkait
Persib Dituntut Balikkan Agregat Lawan Ratchaburi di GBLA
Pria 70 Tahun Tewas Dikoper di Brebes, Tersangka Ditangkap dengan Motif Utang
Pelatih Persik Fokus Benahi Pertahanan Jelang Laga Kontra Bhayangkara FC
DKI Jakarta Batasi Operasional Tempat Hiburan Malam Selama Ramadan