Ketua Komisi VIII Apresiasi Penetapan Awal Ramadan 2026 Hasil Sidang Isbat

- Selasa, 17 Februari 2026 | 22:45 WIB
Ketua Komisi VIII Apresiasi Penetapan Awal Ramadan 2026 Hasil Sidang Isbat

MURIANETWORK.COM - Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, memberikan apresiasi atas proses dan hasil Sidang Isbat yang menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini, menurutnya, merupakan hasil kajian ilmiah dan keagamaan yang kredibel. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Selasa (17/2/2026) malam.

Proses Sidang Isbat yang Komprehensif

Marwan Dasopang menegaskan bahwa Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama bukanlah acara seremonial belaka. Forum tersebut, kata dia, merupakan pertemuan penting yang mengedepankan pendekatan multidisiplin, memadukan aspek syariat dengan kaidah-kaidah sains modern. Proses ini dianggap telah menjalankan amanah publik dengan penuh tanggung jawab.

"Amanah yang diberikan kepada Menteri Agama sudah dijalankan dengan baik. Saya sebagai Ketua Komisi VIII menyaksikan langsung bahwa seminar maupun diskusi tadi melibatkan kaidah keagamaan dan kaidah ilmiah yang sangat matang," jelasnya.

Dasar Penetapan dan Upaya Penyatuan Kalender

Keputusan untuk menetapkan puasa dimulai Kamis didasarkan pada laporan teknis yang menyatakan posisi hilal saat pengamatan masih berada di bawah garis ufuk. Meski demikian, Marwan juga menyoroti langkah strategis jangka panjang yang sedang digarap.

Ia mengapresiasi inisiatif Menteri Agama untuk mendorong penyelarasan kalender Islam di tingkat global. Upaya ini dinilai penting untuk menciptakan keseragaman dalam pelaksanaan ibadah.

"Kami di Komisi VIII akan mendukung upaya mempertemukan berbagai cara pandang. Tujuannya agar ke depan kita bisa melaksanakan ibadah, baik Ramadan maupun Syawal, secara bersama-sama tanpa keraguan," tambah Marwan.

Ajakan Menjaga Kerukunan Umat

Menyadari potensi perbedaan penentuan hari pertama puasa di tengah masyarakat, politisi itu mengimbau seluruh umat Islam untuk mengutamakan persatuan. Perbedaan metodologi, ujarnya, semestinya tidak mengikis semangat toleransi dan saling menghormati.

Ia menutup pernyataannya dengan pesan yang menekankan keikhlasan dalam beribadah serta sikap saling menghargai antar sesama.

"Mari kita beribadah dengan khusyuk, ikhlas, dan jujur. Bagi masyarakat yang tidak menjalankan ibadah puasa, mari kita hormati mereka yang berpuasa, dan begitu juga sebaliknya," tuturnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar