Serangan Bom dan Baku Tembak di Khyber Pakhtunkhwa Tewaskan 17 Orang

- Selasa, 17 Februari 2026 | 18:15 WIB
Serangan Bom dan Baku Tembak di Khyber Pakhtunkhwa Tewaskan 17 Orang

MURIANETWORK.COM - Serangkaian serangan kekerasan di wilayah barat laut Pakistan telah menewaskan sedikitnya 17 orang. Insiden yang melibatkan ledakan bom dan baku tembak ini terjadi pada Senin (16/2) di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, dengan korban mencakup personel keamanan dan warga sipil, termasuk seorang anak.

Kronologi Serangan di Distrik Bajaur

Menurut laporan, serangan terfokus pada pos pemeriksaan dan kantor polisi di distrik Bajaur. Para militan diduga menabrakkan kendaraan bermuatan bahan peledak ke dinding di dekat sebuah pos pemeriksaan. Dampak ledakan itu begitu hebat, tidak hanya menghancurkan target, tetapi juga merusak bangunan tempat tinggal di sekitarnya.

Akibat aksi tersebut, 11 personel keamanan dan seorang gadis muda tewas di tempat. Ledakan juga menyebabkan tujuh warga sipil lainnya mengalami luka-luka.

Respons Militer dan Klaim Keterlibatan

Otoritas militer Pakistan dengan cepat merespons insiden ini. Dalam sebuah pernyataan resmi, serangan itu dikutuk keras.

"Ini adalah serangan teroris pengecut," tegas pernyataan militer tersebut, yang juga menuduh kelompok 'proksi India' berada di balik aksi kekerasan ini.

Dalam operasi lanjutan, pasukan keamanan dikabarkan berhasil memburu para pelaku. Militer menyatakan bahwa selusin militan berhasil ditembak mati saat berusaha melarikan diri dari lokasi kejadian.

Dampak dan Korban Jiwa

Secara keseluruhan, korban jiwa dari peristiwa berdarah ini mencapai 17 orang. Rinciannya terdiri dari 14 anggota pasukan keamanan dan tiga warga sipil yang tidak bersalah. Situasi di lokasi sempat mencekam sebelum akhirnya dapat dikendalikan oleh aparat.

Serangan ini kembali menyoroti kerentanan keamanan di kawasan perbatasan dan menambah daftar panjang aksi kekerasan yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Masyarakat setempat sekali lagi dirundung duka akibat konflik yang tak kunjung usai.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar