Hasil pemeriksaan kesehatan gratis di Jakarta sepanjang 2025 hingga awal tahun ini cukup mencengangkan. Kepala Dinas Kesehatan DKI, Ani Ruspitawati, mengungkapkan temuan utamanya: 93 persen warga ibukota tercatat kurang bergerak.
Angka itu bukan datang dari survei biasa, melainkan dari data riil Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diikuti puluhan ribu orang. Menurut Ani, kelompok risiko penyakit jantung dan pembuluh darah mendominasi, dengan obesitas sentral dan gaya hidup pasif sebagai pelaku utama.
"Dari hasil pemeriksaan, temuan terbanyak berasal dari kelompok risiko penyakit kardiovaskular, terutama obesitas sentral dan kurangnya aktivitas fisik (93 persen)," ujarnya, Selasa (17/2).
Masalahnya tak berhenti di situ. Rupanya, 74 persen peserta juga punya kadar lemak darah yang tidak normal atau dislipidemia. Separuhnya lebih, tepatnya 51 persen, mengalami gangguan pada kesehatan gigi. Potret ini jelas mengkhawatirkan.
Menyikapi hal itu, Dinkes DKI kini berupaya memperkuat langkah pencegahan. Mereka memperluas edukasi hidup sehat dan gencar melakukan skrining untuk mengantisipasi penyakit tidak menular. Kerja sama dengan berbagai pihak juga digalakkan, salah satunya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pola makan seimbang.
Di sisi lain, data lebih rinci diungkapkan Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Sri Puji Wahyuni. Dari sekitar 1,7 juta orang yang diperiksa lingkar perutnya, hampir 580 ribu orang atau 33,7 persen masuk kategori obesitas sentral.
"Sekitar 33,7 persen mengalami obesitas sentral," kata Sri Puji.
Lebih parah lagi, dari 446 ribu orang yang dicek tingkat aktivitas fisiknya, hampir 95 persen atau sekitar 423 ribu orang dinyatakan kurang bergerak. Angka ini bahkan lebih tinggi dari temuan awal.
Lantas, apa sebenarnya CKG itu? Program ini merupakan skrining awal untuk mendeteksi dan mencegah penyakit, mulai dari diabetes, jantung, hingga TB. Di sini, warga bisa mengukur tekanan darah, gula darah, tinggi dan berat badan. Pemeriksaan gigi juga ada, meski hanya sebatas pengecekan, bukan tindakan seperti cabut atau tambal gigi.
Kalau ditemukan indikasi penyakit, tentu ada tindak lanjutnya. Pasien akan dirujuk sesuai kondisi dan kebutuhan pengobatannya.
Bagi warga Jakarta yang ingin ikut, layanan CKG tersedia di 44 puskesmas yang tersebar di enam wilayah kota. Partisipasinya sendiri cukup masif. Tahun 2025 lalu, lebih dari 4,2 juta orang telah memanfaatkannya. Sementara tahun ini, per 11 Februari, sudah ada 146 ribu lebih orang yang mendaftar dan angka ini dipastikan akan terus bertambah seiring waktu.
Target nasionalnya pun ambisius. Kementerian Kesehatan mencanangkan 130 juta peserta CKG di tahun 2026, jauh melampaui target tahun sebelumnya yang ‘hanya’ 70 juta orang. Tampaknya, pemerintah serius ingin mendorong kesadaran akan kesehatan sejak dini.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pria Penyamar Peserta Seminar yang Bolak-balik Jarah Hotel Mewah Jakarta
Persib, Borneo, dan Persija Berebut Puncak di Lima Laga Penentu BRI Liga 1
65 Warga Purworejo Diduga Keracunan Usai Kenduri Ruwahan, Sembilan Dirawat
Menlu Sugiono Perkuat Diplomasi Palestina dan Perdamaian Global di Sidang DK PBB New York