Dugderan Semarang Usung Toleransi dan Libatkan Generasi Muda Sambut Ramadan

- Senin, 16 Februari 2026 | 22:05 WIB
Dugderan Semarang Usung Toleransi dan Libatkan Generasi Muda Sambut Ramadan

"Saya senang tadi ada anak-anak kecil yang mulai ikut menari. Ini pertama kalinya kita melepaskan kontingen anak-anak," ungkapnya.

Pelibatan mereka bukan sekadar hiasan. Ini adalah bentuk transfer pengetahuan, upaya nyata agar Dugderan tak sekadar jadi kenangan, tapi tetap hidup dan berkembang di masa depan. Keterlibatan generasi muda, menurut Agustina, adalah kunci utamanya.

Keunikan lain tahun ini adalah momentumnya. Dugderan berlangsung berdekatan dengan perayaan lintas keagamaan lain. Hal ini, dalam pandangannya, justru memperkuat nilai toleransi dan harmoni yang sudah terjalin.

"Dugderan diharapkan jadi lebih unik berkaitan dengan Imlek, kemudian masa puasa Pra-Paskah bagi teman-teman Kristen Katolik. Harmoni akan terjadi lebih erat dan Semarang menjadi semakin damai," ujarnya.

Dia pun optimis. Suasana damai dan harmonis yang tercipta lewat tradisi seperti ini bukan cuma soal pelestarian budaya. Dampaknya bisa lebih luas, menyentuh sektor pariwisata dan menarik minat investasi untuk Kota Semarang.

Sebelum mengakhiri, ia menyampaikan salam.

"Kami berdua bersama Pak Iswar mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang Muslim," pungkasnya.

Ribuan peserta memadati acara ini. Mereka datang dari perwakilan 16 kecamatan, ormas, kelompok budaya, hingga komunitas seni. Rangkaian acaranya pun lengkap: dari kirab budaya, pentas seni tradisional, hingga pemukulan bedug yang gaungnya menandai Ramadan tiba. Semua itu adalah simbol nyata dari persatuan, toleransi, dan kekayaan budaya yang dimiliki Semarang.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar