Di Jakarta, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, MURIANETWORK.COM Riza Ul Haq, punya pandangan jelas soal kesenjangan mutu di dunia pendidikan. Menurutnya, pembaruan sistem adalah jembatan utama untuk merapatkan jarak yang lebar antara sekolah negeri dan swasta. Realitanya memang kompleks.
Hari ini, sekolah swasta memperlihatkan dua wajah yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada yang jadi magnet hingga orang tua antre panjang. Tapi di sisi lain, banyak juga yang terus terengah-engah mempertahankan jumlah murid agar bisa bertahan.
"Ini menunjukkan bahwa kualitas menentukan kepercayaan publik. Orang tua akan memilih sekolah terbaik. Kalau tidak berbenah, kita bisa tertinggal,"
Begitu penegasan Fajar dalam pernyataan tertulisnya, Senin lalu. Baginya, kunci untuk mengecilkan jurang itu sama sekali bukan terletak pada murid.
Ia justru mengajak semua sekolah untuk introspeksi. Fokusnya harus pada pembaruan kualitas pembelajaran di dalam kelas itu sendiri. Bagaimana caranya? Dengan memastikan kompetensi guru terus diperbarui, dan kepala sekolah punya visi kepemimpinan yang kuat untuk mendongkrak mutu.
"Yang perlu kita benahi bukan anak-anaknya, tetapi kualitas pembelajaran dan profesionalisme gurunya,"
Ucapnya lagi. Ia lalu menyentil hasil Tes Kemampuan Akademik SMA yang mencatatkan fakta pahit: masih sedikit sekolah swasta yang masuk 100 besar nasional.
Namun begitu, data itu jangan cuma diratapi. Lebih baik dijadikan cermin bersama untuk bercermin.
"Kalau ingin memperkecil disparitas, maka kualitas guru harus jadi prioritas. Tidak ada jalan pintas,"
tegas Fajar.
Secara lebih luas, Kemendikdasmen sendiri disebut sedang mendorong pembenahan tata kelola guru secara menyeluruh. Kerangkanya berdasar pada empat kompetensi: pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Upaya lain yang digenjot adalah percepatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) serta penyaluran tunjangan profesi yang lebih lancar setiap bulannya.
Tapi di balik semua kebijakan sistemik itu, MURIANETWORK.COM menekankan hal yang lebih mendasar: etos kerja. Menyempurnakan pekerjaan dengan profesionalitas adalah kunci.
"Guru yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan totalitas adalah fondasi kemajuan sekolah,"
tuturnya.
Komitmen itu mulai diwujudkan di daerah. Di Sukabumi, misalnya, baru saja dilakukan penandatanganan kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) dan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Jawa Barat. Tujuannya untuk peningkatan kualitas guru di wilayah Sukabumi.
Fajar menyebut langkah ini mungkin terlihat kecil. Tapi ia berharap ini jadi bagian dari ikhtiar panjang yang konsisten. Sebab, pada akhirnya, keunggulan sebuah sekolah bukan cuma soal gedung mewah atau fasilitas canggih.
Semua itu tumbuh dari ruang kelas yang hidup, dari guru-guru yang tak berhenti belajar, dan dari kepemimpinan sekolah yang punya semangat tak kenal lelah untuk menjaga mutu.
Artikel Terkait
Badan Geologi Waspadai Potensi Erupsi Freatik Mendadak di Gunung Lokon
Banjir dan Longsor Landa Nagari Koto Kaciak Agam, Puluhan Rumah Terendam
Pasangan Kekasih di Bekasi Diamankan Diduga Buang Bayi Baru Lahir
Lebih dari 40.000 Peserta BPJS PBI Kembali Aktif, 2.000 Beralih Bayar Mandiri