Merespon gagasan tersebut, Rektor UMP, Prof. Jebul Suroso, menyatakan bahwa kehadiran Ketua Umum Gekrafs menjadi motivasi bagi kampusnya. UMP sendiri memiliki visi untuk menjadi pusat kajian ekonomi kebangsaan di wilayah Banyumas, dengan mengembangkan pusat pemikiran yang mengangkat nilai-nilai tokoh nasional asal Banyumas, RM Margono Djojohadikusumo.
Prof. Jebul menilai ide integrasi kewirausahaan dalam kurikulum sangat relevan dan akan segera ditindaklanjuti.
“Idenya sangat kreatif, menciptakan mahasiswa bukan hanya sebagai pencari kerja tetapi juga pembuka lapangan kerja. Kita akan buat pilot project, terutama di bidang ekonomi, tapi pendidikan dan bidang lain juga memungkinkan karena banyak produk kreatif hasil riset yang bisa dihilirisasi,” jelasnya.
Tantangan Literasi dan Pembiayaan
Di sisi lain, Kawendra juga mengungkapkan tantangan klasik yang masih menghadang sektor ekonomi kreatif. Menurut pengamatannya, masalah literasi dan akses pembiayaan (financing) masih menjadi kendala utama.
Banyak pelaku, ungkapnya, bahkan belum menyadari bahwa usaha mereka termasuk dalam lingkup ekonomi kreatif. Namun, ia menyebutkan bahwa sudah ada terobosan kebijakan untuk mengatasi hal ini.
“Kendala yang kami cermati adalah literasi dan financing. Banyak pelaku ekraf yang tidak sadar bahwa mereka pelaku ekonomi kreatif, tapi sekarang sudah ada solusi pembiayaan berbasis kekayaan intelektual atau IP financing yang digagas pemerintah dan sudah ada alokasinya tahun ini,” papar Kawendra.
Dialog antara praktisi kebijakan seperti Kawendra dengan institusi pendidikan seperti UMP ini menunjukkan upaya nyata untuk membangun ekosistem ekraf yang lebih solid, dimulai dari hulu di bangku kuliah hingga hilir di dunia usaha yang penuh tantangan.
Artikel Terkait
Banjir Rendam 552 Rumah di Donggala, Dua Kecamatan Terdampak
Penyelundupan 202 Reptil Hidup ke Dubai Digagalkan di Soekarno-Hatta
AS dan Iran Saling Klaim Soal Nasib Jet Tempur F-15 yang Jatuh
Pegawai Tangerang dan Tangsel Mulai WFH Setiap Jumat Pekan Depan