Jakarta, Sabtu lalu (14/2/2026), suasana di dapur aktif kawasan Safwat Al Wessam, Walyal Ahd District, Mekah, agak berbeda. Tim dari Kementerian Haji dan Umrah turun langsung untuk melakukan supervisi dan pengecekan mendetail. Tujuannya jelas: memastikan layanan konsumsi untuk jemaah berjalan optimal, higienis, dan yang tak kalah penting, punya cita rasa yang akrab di lidah orang Indonesia.
Dalam peninjauan itu, ada poin khusus yang ditegaskan pemerintah. Dapur penyedia konsumsi diharuskan menggunakan bumbu masak asli dari Indonesia, termasuk beras. Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Selain untuk menjaga konsistensi rasa, langkah ini diambil agar jemaah yang sedang jauh dari rumah tetap bisa menikmati hidangan yang familiar. Rasanya harus seperti di Tanah Air.
Proses pengolahan berasnya pun tak boleh asal. Pemerintah meminta standar yang biasa diterapkan di Indonesia diikuti dengan ketat. Tujuannya satu: tekstur dan rasa nasi yang dihidangkan harus sama persis dengan yang biasa mereka santap sehari-hari. Detail kecil seperti ini ternyata punya dampak besar bagi kenyamanan jemaah.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Irfan, memastikan komitmennya untuk memberikan layanan terbaik.
"Penggunaan bumbu dan beras dari Indonesia adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan rasa yang familiar bagi jemaah, sehingga mereka tetap nyaman dan fokus dalam menjalankan ibadah,” tegas Gus Irfan dalam keterangan yang diterima Senin (16/2).
Dia menegaskan, seluruh tahapan mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, sampai pengemasan harus memenuhi standar kualitas dan kebersihan tertinggi, sambil tetap menghadirkan nuansa Nusantara.
Aspek kebersihan, tentu saja, jadi perhatian utama. Supervisi kali ini menyisir setiap sudut. Area penyimpanan bahan makanan diperiksa ketat, harus bersih dan higienis sesuai standar keamanan pangan. Pengecekan dilakukan secara menyeluruh, tidak main-main, mulai dari dapur, proses masak, hingga ke tahap packing.
Di sisi lain, kapasitas dan ketepatan juga jadi sorotan. Fasilitas dapur dituntut tidak hanya mampu memproduksi dalam jumlah besar, tetapi juga mendistribusikannya dengan tepat waktu. Soal makan ini, keterlambatan sedikit saja bisa jadi masalah besar.
Gus Irfan kembali menekankan pentingnya konsistensi.
“Pelayanan konsumsi bukan hanya soal makanan tersedia, tetapi bagaimana kualitasnya terjaga, rasanya sesuai selera jemaah Indonesia, dan distribusinya tepat waktu,” ujarnya.
Pada akhirnya, supervisi langsung semacam ini menunjukkan keseriusan pemerintah. Kementerian Haji dan Umrah tampaknya benar-benar berupaya menghadirkan pelayanan yang terstandar dan berorientasi pada kepuasan jemaah. Dengan pengawasan ketat pada kualitas bahan dan higienitas, harapannya pelayanan haji Indonesia kian profesional. Kenyamanan jemaah selama menjalankan ibadah, itulah intinya.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Empat Pelabuhan untuk Antisipasi Kemacetan Mudik Lebaran 2026
Tiga Tersangka Pencurian Batik Senilai Rp1,3 Miliar di Senayan Diringkus Polisi
Netizen Soroti Posisi Atta dan Aurel di Acara Keluarga Halilintar
Rumah Jokowi di Solo Diberi Label Tembok Ratapan di Google Maps