Lalu, ada pendelegasian wewenang untuk menyetujui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026-2030 dan RKAP 2027. Agenda lain yang tak kalah penting adalah rencana pembelian kembali saham atau buyback, serta perubahan anggaran dasar perusahaan.
Agenda kedelapan adalah laporan realisasi penggunaan dana dari penawaran sustainability bond tahap I di 2025. Terakhir, rapat akan menegaskan lagi pelimpahan wewenang RUPS ke Dewan Komisaris terkait perubahan peraturan dana pensiun perseroan.
Lalu, bagaimana kinerja BNI di tahun 2025 yang akan dibahas dalam rapat ini? Bank plat merah ini membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp20,11 triliun. Angka itu memang turun 7,15% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp21,66 triliun.
Namun begitu, dari sisi penyaluran kredit, BNI justru mencatatkan pertumbuhan yang cukup solid. Hingga Desember 2025, kredit yang disalurkan membengkak jadi Rp899,53 triliun, naik 15,94% year-on-year.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga melesat. DPK BNI tumbuh 29,21% menjadi Rp1.040,83 triliun. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh simpanan giro yang melonjak 43,75% menjadi Rp439,49 triliun. Deposito dan tabungan juga ikut naik, masing-masing 29,99% dan 11,23%.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menyebut capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis bank yang ia pimpin.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,”
kata Putrama dalam keterangannya pada Selasa, 3 Februari 2026.
Artikel Terkait
Menteri Hukum Serahkan 146 Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual di Klungkung
Presiden Prabowo Kembali dengan Komitmen Investasi Rp 575 Triliun dari Jepang dan Korea
Megawati Serahkan 126 Sertifikat HKI untuk Lindungi Karya Seni dan Budaya Bali
Ekonom Sarankan Alihkan Subsidi BBM untuk Percepatan Elektrifikasi Hadapi Risiko Geopolitik