Stigma-stigma semacam itu, lanjut Rerie, secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada proses elektoral. Buktinya, keterpilihan perempuan sebagai anggota legislatif masih jauh dari angka yang diharapkan. Ia memberikan contoh konkret dari hasil Pemilu 2024.
"Jumlah anggota DPR RI perempuan dari daerah pemilihan Jawa Tengah pada Pemilu 2024 hanya berjumlah 16 orang (20,7%) dari 77 anggota yang terpilih. Capaian itu masih jauh dari harapan 30% keterwakilan perempuan di parlemen," jelasnya.
Belajar dari Pengalaman untuk Perjuangan ke Depan
Fakta tersebut, tegas Rerie, menunjukkan betapa upaya meningkatkan peran politik perempuan berhadapan dengan situasi yang tidak mudah. Oleh karena itu, ia melihat pentingnya mendokumentasikan dan mempelajari berbagai pengalaman praktis. Acara bedah buku yang digelar di Auditorium FIMENA Fisip Undip Semarang itu diharapkannya bisa menjadi momentum pembelajaran.
Buku yang dibedah, bertajuk "Politik Teknokratis Kemenangan Melampaui Interseksionalitas dalam Pemilu", diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat luas, khususnya para pegiat kesetaraan, dalam memperjuangkan peningkatan keterwakilan perempuan di bidang politik. Harapannya, dari kajian dan solidaritas yang terbangun, langkah-langkah strategis ke depan bisa dirumuskan dengan lebih tepat sasaran.
Artikel Terkait
Bupati Sumedang Tinjau Progres Akhir Perbaikan Jalan Burujul-Sanca
Presiden Prabowo Disambut Upacara Kenegaraan di Istana Akasaka Jepang
Wamen Sosial Ajak Masyarakat Teladani Tiga Pilar Kepemimpinan Sultan Hasanuddin di Haul ke-465
Dua Prajurit TNI Gugur dalam Insiden Terpisah di Misi UNIFIL Lebanon