Wamen Sosial Ajak Masyarakat Teladani Tiga Pilar Kepemimpinan Sultan Hasanuddin di Haul ke-465

- Selasa, 31 Maret 2026 | 09:50 WIB
Wamen Sosial Ajak Masyarakat Teladani Tiga Pilar Kepemimpinan Sultan Hasanuddin di Haul ke-465

Ribuan orang memadati Alun-Alun Masjid Agung Banten Lama, Serang, Senin (30/3) lalu. Mereka hadir bukan tanpa tujuan, melainkan untuk mengenang dan menghormati jejak Sultan Maulana Hasanuddin dalam Haul Agungnya yang ke-465. Suasana begitu khidmat, diisi lantunan istigasah dan ayat suci Al-Qur'an, namun juga meriah dengan festival budaya yang menyertainya.

Di tengah kerumunan itu, hadir Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono. Ia turut merasakan gelora spiritual dan budaya yang mengalir deras dalam acara bertema 'Mengharap Berkah Menjemput Karomah, Menjunjung Tinggi Marwah' tersebut.

Dalam sambutannya, Jabo mengajak semua yang hadir untuk belajar dari masa lalu. "Bapak Presiden selalu bilang, 'jas merah'. Jangan sekali-kali melupakan sejarah," ujarnya.

"Sultan Maulana Hasanuddin adalah sejarah yang harus kita jaga dan kita ambil hikmahnya," tegas Agus Jabo dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, nilai-nilai yang ditinggalkan sang Sultan bukanlah sekadar cerita usang. Justru, warisan itu menjadi fondasi yang kokoh untuk kehidupan berbangsa kita sekarang. Ia melihat kepemimpinan Hasanuddin berdiri di atas tiga pilar utama: politik, spiritualitas, dan ekonomi yang mandiri.

"Coba lihat simbolnya," jelas Jabo. "Istana sebagai pusat pemerintahan, masjid untuk spiritualitas, dan pasar sebagai denyut perekonomian. Konsep kehidupan berbangsa yang lengkap ini sudah ada sejak dulu."

Di sisi lain, ia menekankan bahwa karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa timur tak bisa dipisahkan dari nilai spiritual dan agama. Hal ini, katanya, tercermin jelas dalam konsep Negara Kertagama, di mana kemakmuran sejati berakar pada keluhuran nilai hidup.

"Momen haul seperti ini harus kita manfaatkan untuk membangkitkan lagi kearifan lokal dan keluhuran para leluhur," katanya. Tujuannya jelas: agar bangsa ini punya jati diri yang kuat dan tak mudah goyah.

Bagi Jabo, peringatan haul bukan ritual tahunan belaka. Ini adalah ruang untuk menyatukan hati, memperkuat kebersamaan. "Malam ini adalah malam manunggal. Masyarakat menyatu dengan pemimpinnya, dengan para ulamanya. Inilah basis persatuan kita," ungkapnya penuh keyakinan.

Lebih jauh, ia mengajak semua elemen masyarakat untuk terus merawat semangat gotong royong. Hanya dengan persatuan nasional yang solid, cita-cita Indonesia yang adil dan makmur bisa diwujudkan.

Ia bahkan mendukung penuh agar Haul Sultan Maulana Hasanuddin ini tak hanya jadi agenda daerah. "Ini berpotensi besar untuk masuk dalam Kalender Event Nasional," ucapnya.

Acara yang digelar di Kasemen, Kota Serang itu juga dihadiri sejumlah tokoh penting. Tampak hadir Gubernur Banten Andra Soni, Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi, serta Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto. Tak ketinggalan, Ketua DPRD Provinsi Banten Fahmi Hakim, Wali Kota Serang Budi Rustandi, dan sejumlah pejabat tinggi daerah serta para ulama turut memenuhi undangan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar