Di gedung DPR, Senayan, suasana Jumat siang itu cukup ramai. Sekjen Partai Golkar, Sarmuji, berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan wartawan. Topiknya panas: beda pandangan antara dua menteri kabinet soal angka lifting migas. Tapi, dari raut wajahnya, Sarmuji justru terlihat santai. Ia dengan tegas membantah adanya ketegangan antara Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Oh nggak ada, nggak ada. Sama sekali nggak memanas," ujarnya sambil meyakinkan.
"Memang ada yang coba mem-framing seolah ada konflik. Tapi faktanya? Tidak."
Menurut Sarmuji, pernyataan Menkeu Purbaya yang meragukan kenaikan lifting tanpa ladang minyak baru punya dasar yang bisa dimengerti. Namun begitu, data yang diungkapkan Bahlil juga bukan omong kosong. Keduanya, dalam pandangannya, tidak saling menafikan.
"Yang disampaikan Pak Purbaya ada benarnya. Tapi kalau meragukan data Pak Bahlil, ya jelas salah," kata Sarmuji dengan logika yang sederhana.
"Data lifting itu kan tinggal dihitung total. Pasti benar. Nggak mungkin salah, kecuali kalkulatornya rusak," tambahnya, diselingi tawa ringan.
Ia kemudian menekankan poin penting: inti dari kedua pernyataan menteri itu sebenarnya sama. Purbaya bilang lifting naik harus ada investasi baru. Bahlil, meski dengan data yang berbeda, juga punya pandangan serupa soal pentingnya investasi. Jadi, di mana letak pertentangannya?
Artikel Terkait
Anggota DPR Dukung WFH Jumat untuk ASN, Ingatkan Pentingnya Sanksi Tegas
Dirjen Imigrasi Baru Tegaskan Pentingnya Baca Arah Pikiran Presiden Prabowo
Wapres Gibran Dukung Penyelidikan Tuntas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Presiden Korea Selatan Sampaikan Belasungkawa Atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon