Buat para investor yang gemar berburu saham murah, rasio Price to Book Value atau PBV sering jadi senjata andalan. Intinya, PBV itu membandingkan harga saham di pasar dengan nilai bukunya. Kalau angkanya 1, artinya harganya pas. Tapi kalau di bawah 1? Nah, itu bisa jadi pertanda saham itu diperdagangkan di bawah harga wajarnya, atau dalam istilah kerennya: undervalued.
Namun begitu, jangan buru-buru tergiur. PBV di bawah satu bukan jaminan cuan. Rasio ini cuma satu alat bantu, bukan patokan mutlak. Investor yang paham betul akan selalu membarenginya dengan analisis fundamental yang mendalam. Soalnya, banyak faktor yang bikin harga saham anjlok atau melambung, tak selalu mencerminkan kualitas perusahaan.
Ada kalanya perusahaan bagus justru harganya murah karena sentimen pasar yang lagi jelek. Sebaliknya, perusahaan yang biasa saja bisa diborong habis dan harganya melambung tinggi cuma karena euforia sesaat. Makanya, lihatlah PBV sebagai petunjuk awal, bukan kesimpulan akhir.
Nah, kalau kamu penasaran, berikut beberapa saham perbankan yang catatan PBV-nya masih di bawah angka 1 per awal April 2026. Bisa jadi bahan pertimbangan, tapi ya itu tadi, riset lebih lanjut tetap kunci utamanya.
7 Saham Perbankan dengan PBV di Bawah 1 (1 April 2026)
Di posisi terendah, ada PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN). PBV-nya cuma 0,41. Sahamnya diperdagangkan di Rp945, padahal nilai buku per sahamnya mencapai Rp2.282. Jauh, kan?
Lalu ada PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Rasio PBV saham BDMN tercatat 0,46. Harga pasarnya Rp2.560, sementara nilai bukunya lebih dari dua kali lipat: Rp5.552 per saham.
Berikutnya, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) mencatat PBV 0,47. Pada Rabu pertama April kemarin, harganya Rp204 per unit. Nilai buku per sahamnya? Rp425.
Artikel Terkait
RMKE Catat Pendapatan Rp2,2 Triliun di 2025, Jasa Logistik Jadi Penopang Laba
IHSG Melonjak 1,45% ke 7.150, Didukung Kenaikan Luas di Semua Sektor
Neraca Perdagangan RI Surplus 70 Bulan Berturut-turut, Ditopang Penuh Sektor Nonmigas
Regulator Pacu Reformasi Pasar Jelang Penilaian Status Emerging Market oleh MSCI dan FTSE