Dia melanjutkan, penurunan permukaan air yang terjadi secara drastis dan dalam waktu lama diduga menjadi pemicu utama. Kondisi tanah di bantaran kali yang sudah labil akhirnya tidak lagi mampu menahan beban.
"Nah itu karena terlalu lama disurutin jadi lama-lama kan kalif pinggiran ini kan apa namanya tanahnya kan tanah labil ya. Lama-lama turun dia tanahnya," katanya.
Proses Longsor yang Merambat
Banu menggambarkan bahwa longsor tidak terjadi sekaligus, melainkan merambat secara bertahap dari satu titik ke titik lainnya. Proses ini yang akhirnya memperluas area kerusakan hingga ke jantung kawasan wisata.
"Awalnya (tanah) situ, turun bres, terus nggak lama ke sana, pindah ke sana, akhirnya sampai ke Hutan Bambu. Hutan Bambu yang parah," ujarnya.
Dari keterangan tersebut, terlihat bahwa bencana ini berkembang secara bertahap, memberikan gambaran tentang kerentanan kawasan tersebut terhadap perubahan kondisi hidrologis yang mendadak. Kejadian ini menyisakan pekerjaan rumah yang berat, baik bagi pengelola wisata maupun pemerintah setempat, untuk melakukan penilaian kerusakan dan merencanakan langkah rehabilitasi yang komprehensif.
Artikel Terkait
Lelang KPK Raup Rp 10,9 Miliar, Dua HP Bekas Laku Rp 59 Juta Tak Ditebus
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon, DPR Desak Langkah Diplomatik
Mantan Guru Depok Diamankan Usai Sebar Brosur Penawaran Jasa Seks di Pamulang
BMKG Peringatkan Hujan Ringan hingga Petir Melanda Sejumlah Wilayah Hari Ini