Perspektif Ahli: Premi Risiko sebagai "Harga Kepercayaan"
Aswath Damodaran, pakar valuasi ternama, memberikan konteks yang tajam. Ia menegaskan bahwa equity risk premium pada dasarnya adalah "harga kepercayaan" yang harus dibayar sebuah negara di mata investor global.
"Ketika risiko tata kelola dan ketidakpastian kebijakan meningkat, pasar akan merespons bukan dengan retorika, melainkan dengan menaikkan tingkat pengembalian yang diminta," jelas Damodaran.
Pandangan ini beresonansi dengan analisis peraih Nobel Joseph Stiglitz, yang menyoroti sensitivitas pasar keuangan terhadap kredibilitas institusi. Stiglitz berargumen bahwa biaya modal yang tinggi akibat lemahnya tata kelola akan mendorong perilaku ekonomi yang tidak efisien.
"Biaya modal yang tinggi akibat lemahnya tata kelola akan mendorong perilaku ekonomi yang tidak efisien, seperti perusahaan menunda ekspansi bisnis, dan lebih memilih pembiayaan jangka pendek, atau bergantung pada relasi non-pasar," ungkapnya dalam karyanya.
Masa Depan Pasar Modal: Antara Lingkaran Setan dan Reformasi
Dari sudut pandang praktisi, kekhawatiran terbesar adalah terbentuknya lingkaran setan. Biaya modal yang tinggi dan persepsi risiko yang memburuk akan mengurangi minat perusahaan berkualitas untuk melantai di bursa. Akibatnya, kedalaman pasar tidak berkembang, likuiditas terpusat pada sedikit saham, dan bursa kehilangan perannya sebagai mekanisme penemuan harga yang efisien, berubah menjadi arena spekulasi jangka pendek.
Jalan ke depan pun menjadi jelas. Masa depan pasar modal Indonesia sangat bergantung pada kemampuan otoritas dan pelaku pasar dalam menurunkan premi risiko struktural melalui langkah-langkah konkret. Reformasi tata kelola, peningkatan transparansi kepemilikan, dan penyediaan kepastian regulasi menjadi kunci. Tanpa itu, pertumbuhan pasar hanya akan bersifat semu, mudah naik saat likuiditas global melimpah tetapi langsung terperosok ketika sentimen memburuk.
Di sisi lain, keberhasilan menurunkan risiko institusional akan menurunkan biaya modal secara alami. Pada titik itulah pasar modal dapat kembali menjalankan fungsi utamanya: membiayai pertumbuhan ekonomi riil, mendorong inovasi, dan menjadi penjaga stabilitas sistem keuangan.
Tantangan bagi Investor dan Otoritas
Dalam gejolak seperti ini, investor dituntut untuk lebih dewasa dan disiplin. Volatilitas tinggi harusnya menjadi momen evaluasi strategi, bukan kepanikan. Diversifikasi portofolio dan fokus pada fundamental perusahaan yang kuat adalah prinsip bertahan yang tak tergantikan.
Namun, tanggung jawab utama tidak boleh dibebankan hanya pada pundak investor. Pasar membutuhkan denyut kebijakan yang konsisten, komunikasi yang jujur dan transparan dari otoritas, serta reformasi yang dapat dilihat dan diukur hasilnya. Stabilitas jangka panjang adalah buah dari tata kelola yang kredibel, dan itulah modal terpenting untuk memulihkan kepercayaan yang kini sedang teruji.
Sukarijanto. Pemerhati Kebijakan Publik dan Peneliti di Institute of Global Research for Economics, Entrepreneurship, & Leadership.
Artikel Terkait
Lelang KPK Raup Rp 10,9 Miliar, Dua HP Bekas Laku Rp 59 Juta Tak Ditebus
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon, DPR Desak Langkah Diplomatik
Mantan Guru Depok Diamankan Usai Sebar Brosur Penawaran Jasa Seks di Pamulang
BMKG Peringatkan Hujan Ringan hingga Petir Melanda Sejumlah Wilayah Hari Ini