Gejolak Pasar Modal: Mundurnya Pimpinan BEI dan OJK Perkuat Isu Tata Kelola

- Jumat, 13 Februari 2026 | 13:45 WIB
Gejolak Pasar Modal: Mundurnya Pimpinan BEI dan OJK Perkuat Isu Tata Kelola

MURIANETWORK.COM - Pasar modal Indonesia mengalami tekanan berat dalam beberapa pekan terakhir, ditandai dengan penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan volatilitas ekstrem yang memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Gejolak ini diperparah oleh arus keluar dana asing yang masif dan diperkuat oleh keputusan mundur secara serentak pimpinan BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Analisis mendalam menunjukkan bahwa akar persoalannya bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan terkait isu struktural seperti tata kelola dan transparansi yang berdampak pada persepsi risiko investor global.

Dari Koreksi ke Alarm: Mengurai Akar Gejolak

Penurunan IHSG yang dalam, disertai arus keluar dana asing mencapai belasan triliun rupiah, telah menghentak pasar. Dalam satu sesi perdagangan, indeks bahkan sempat terjun bebas lebih dari 10 persen, sebuah gambaran yang lebih mencerminkan kepanikan daripada aksi akumulasi yang sehat. Situasi ini mencapai momentum kritis dengan pengunduran diri pimpinan BEI dan OJK, sebuah langkah yang dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab moral namun justru menggarisbawahi kedalaman masalah yang dihadapi.

Langkah tersebut seolah menjadi konfirmasi atas kekhawatiran yang telah disinyalir sebelumnya. Pasar tidak hanya bereaksi terhadap kondisi sesaat, tetapi merespons isu-isu mendasar yang telah lama menjadi perhatian.

Dampak Langsung Penurunan Peringkat dan Rebalancing

Pemicu signifikan dari tekanan ini berasal dari dunia internasional. Setelah penurunan peringkat (downgrade) dari Moody's, pasar dikejutkan oleh keputusan MSCI untuk menangguhkan sementara proses penyesuaian bobot (rebalancing) saham Indonesia dalam indeksnya. Ini bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan sinyal keras yang menyoroti persoalan fundamental, terutama terkait transparansi kepemilikan dan kualitas tata kelola perusahaan, khususnya yang berafiliasi dengan negara.

Dampak mekanisnya langsung terasa. Setiap penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI berpotensi memicu arus keluar dana pasif yang signifikan, mencapai ratusan juta dolar AS. Efeknya berantai: tekanan jual meningkat, likuiditas pasar menyusut, dan volatilitas melonjak. Data di lapangan menunjukkan, nilai transaksi harian BEI telah mengalami penurunan, sementara indeks volatilitasnya naik drastis di atas rata-rata historis.

Valuasi Terkompresi dan Naiknya Biaya Modal

Gejolak ini tercermin jelas dalam angka-angka valuasi. Forward price earning ratio (PER) IHSG tertekan, sementara price to book value (PBV) sektor perbankan besar mendekati level yang mencerminkan diskon risiko tinggi. Pasar tampaknya tidak hanya melakukan penyesuaian harga atas ekspektasi laba, tetapi juga menaikkan premi risiko struktural untuk Indonesia.

Kenaikan premi risiko ekuitas ini berimplikasi serius. Dengan menggunakan pendekatan model penetapan harga aset modal (CAPM) yang disesuaikan, kenaikan tersebut langsung mendorong biaya ekuitas perusahaan melambung. Ilustrasinya, kenaikan biaya ekuitas satu persen saja dapat mengurangi nilai sekarang (NPV) proyek jangka panjang secara signifikan, sehingga banyak rencana ekspansi bisnis menjadi tidak ekonomis dan berpotensi ditunda.

Transmisi ke Ekonomi Riil: Dari Bursa ke Pertumbuhan

Guncangan di pasar modal tidak berhenti di layar monitor. Terdapat hubungan nyata antara perlambatan di bursa dengan pertumbuhan investasi di sektor riil. Data historis mengindikasikan bahwa penurunan kapitalisasi pasar dapat menekan pertumbuhan investasi tetap bruto dalam kuartal-kuartal berikutnya. Jika tekanan di pasar modal berlangsung berkepanjangan, target pertumbuhan ekonomi nasional pun bisa terancam, terlebih dengan ruang fiskal yang terbatas untuk memberikan stimulus penopang.

Tekanan eksternal turut memperkeruh situasi. Dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap menarik, daya tarik relatif aset berisiko di pasar berkembang seperti Indonesia menjadi berkurang. Investor global kini menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk menutupi risiko yang mereka persepsikan, membuat fundamental domestik yang stabil saja tidak cukup untuk menarik modal masuk.

Perspektif Ahli: Premi Risiko sebagai "Harga Kepercayaan"

Aswath Damodaran, pakar valuasi ternama, memberikan konteks yang tajam. Ia menegaskan bahwa equity risk premium pada dasarnya adalah "harga kepercayaan" yang harus dibayar sebuah negara di mata investor global.

"Ketika risiko tata kelola dan ketidakpastian kebijakan meningkat, pasar akan merespons bukan dengan retorika, melainkan dengan menaikkan tingkat pengembalian yang diminta," jelas Damodaran.

Pandangan ini beresonansi dengan analisis peraih Nobel Joseph Stiglitz, yang menyoroti sensitivitas pasar keuangan terhadap kredibilitas institusi. Stiglitz berargumen bahwa biaya modal yang tinggi akibat lemahnya tata kelola akan mendorong perilaku ekonomi yang tidak efisien.

"Biaya modal yang tinggi akibat lemahnya tata kelola akan mendorong perilaku ekonomi yang tidak efisien, seperti perusahaan menunda ekspansi bisnis, dan lebih memilih pembiayaan jangka pendek, atau bergantung pada relasi non-pasar," ungkapnya dalam karyanya.

Masa Depan Pasar Modal: Antara Lingkaran Setan dan Reformasi

Dari sudut pandang praktisi, kekhawatiran terbesar adalah terbentuknya lingkaran setan. Biaya modal yang tinggi dan persepsi risiko yang memburuk akan mengurangi minat perusahaan berkualitas untuk melantai di bursa. Akibatnya, kedalaman pasar tidak berkembang, likuiditas terpusat pada sedikit saham, dan bursa kehilangan perannya sebagai mekanisme penemuan harga yang efisien, berubah menjadi arena spekulasi jangka pendek.

Jalan ke depan pun menjadi jelas. Masa depan pasar modal Indonesia sangat bergantung pada kemampuan otoritas dan pelaku pasar dalam menurunkan premi risiko struktural melalui langkah-langkah konkret. Reformasi tata kelola, peningkatan transparansi kepemilikan, dan penyediaan kepastian regulasi menjadi kunci. Tanpa itu, pertumbuhan pasar hanya akan bersifat semu, mudah naik saat likuiditas global melimpah tetapi langsung terperosok ketika sentimen memburuk.

Di sisi lain, keberhasilan menurunkan risiko institusional akan menurunkan biaya modal secara alami. Pada titik itulah pasar modal dapat kembali menjalankan fungsi utamanya: membiayai pertumbuhan ekonomi riil, mendorong inovasi, dan menjadi penjaga stabilitas sistem keuangan.

Tantangan bagi Investor dan Otoritas

Dalam gejolak seperti ini, investor dituntut untuk lebih dewasa dan disiplin. Volatilitas tinggi harusnya menjadi momen evaluasi strategi, bukan kepanikan. Diversifikasi portofolio dan fokus pada fundamental perusahaan yang kuat adalah prinsip bertahan yang tak tergantikan.

Namun, tanggung jawab utama tidak boleh dibebankan hanya pada pundak investor. Pasar membutuhkan denyut kebijakan yang konsisten, komunikasi yang jujur dan transparan dari otoritas, serta reformasi yang dapat dilihat dan diukur hasilnya. Stabilitas jangka panjang adalah buah dari tata kelola yang kredibel, dan itulah modal terpenting untuk memulihkan kepercayaan yang kini sedang teruji.

Sukarijanto. Pemerhati Kebijakan Publik dan Peneliti di Institute of Global Research for Economics, Entrepreneurship, & Leadership.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar