Pondok ini menyediakan segala kebutuhan dasar: tempat tinggal, makan, dan pakaian. Para santri tetap bersekolah di lembaga formal sekitar, dan sepulang sekolah mereka mengikuti program pesantren seperti mengaji dan belajar kitab.
Pengelolaannya sederhana. Awalnya, Taufan hanya punya modal Rp 5 juta. Ia dan Ustaz Ajat lantas patungan dan menggalang donasi.
Masa-masa awal itu penuh tantangan. Bahkan, anak-anak sempat belajar di bawah tenda terpal. Saat hujan dan angin kencang datang, mereka pun kebasahan.
Lambat laun, bantuan mengalir. Tak hanya dari warga sekitar, tapi juga dari donatur, termasuk warga negara asing yang peduli. Total biaya yang sudah dikeluarkan untuk pembangunan dan operasional diperkirakan mencapai Rp 100 juta. Meski begitu, hingga kini pesantren belum memiliki masjid tetap dan masih memanfaatkan aula untuk salat.
Cita-Cita yang Terwujud
Memiliki pesantren ternyata adalah mimpi lama Bripka Taufan. Ia sendiri adalah lulusan pesantren dan masuk Polri melalui jalur khusus pesantren.
Keprihatinannya melihat anak-anak yang kekurangan, menjadi motivasi utamanya.
Kini, Ponpes Daarul Huda Al-Azis menampung 50 santri. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan dari Tangerang dan Lampung. Rekrutmen seringkali terjadi dari jaringan ke jaringan antar pesantren.
Dari dua orang santri pertama, kini telah berkembang pesat. Sebuah bukti bahwa niat tulus dan kerja keras, sekecil apa pun, bisa menumbuhkan harapan yang besar.
Artikel Terkait
Bagian Tubuh Korban Mutilasi Bekasi Ditemukan di Bogor
Pelatih Bulgaria Apresiasi Perkembangan Timnas Indonesia Usai Kalah Tipis di Final FIFA Series
Bocah 9 Tahun Tewas Tertabrak Mobil di Halaman Rumah, Sopir Diduga Mengantuk
Herdman Soroti Potensi Doni Tri Pamungkas dan Beckham Putra Usai Kekalahan Timnas