Pemerintah Catat Swasembada Beras dan Tekan Impor Solar pada 2025

- Jumat, 13 Februari 2026 | 07:15 WIB
Pemerintah Catat Swasembada Beras dan Tekan Impor Solar pada 2025

Pernyataan itu cukup beralasan, mengingat hampir separuh dari kebutuhan solar nasional yang mencapai 38-39 juta kiloliter per tahun masih dipasok dari luar negeri.

Strategi Jangka Panjang: Hilirisasi dan Bioenergi

Sebaliknya, pengurangan impor solar justru meredakan "sakit gigi" pemerintah. Strategi jangka panjang difokuskan pada pemasifan proyek bioenergi, dengan kelapa sawit sebagai tulang punggung utamanya. Limbah sawit akan diolah menjadi energi terbarukan, didukung oleh percepatan perluasan lahan.

Peta jalan hilirisasi sawit terlihat cukup ambisius. Program biodiesel B40 yang sedang berjalan rencananya akan ditingkatkan menjadi B50. Pendekatan serupa juga diterapkan di sektor tambang dan mineral, di mana hilirisasi diprioritaskan untuk menciptakan nilai tambah yang signifikan dari sumber daya alam.

Kesejahteraan Rakyat sebagai Tolok Ukur Utama

Namun, di balik segala proyek besar untuk kemandirian energi ini, para pengamat mengingatkan agar kesejahteraan rakyat tidak terlupakan. Kemanfaatan langsung bagi masyarakat harus menjadi tujuan utama, bukan sekadar efek samping. Untungnya, transisi energi berpotensi menciptakan efek berganda yang luas.

Sebagai contoh, laporan dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan bahwa program B40 saja pada 2025 mampu melibatkan sekitar 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir. Ini menunjukkan bahwa kemajuan di sektor energi bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan usaha lokal, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dengan demikian, kemandirian energi bukan sekadar soal angka produksi dan impor. Ia adalah tentang membangun ketahanan nasional dan mendorong kesejahteraan. Pencapaian itu mungkin diraih asalkan didukung oleh kemauan politik yang kuat, strategi yang terukur, dan komitmen untuk membersihkan sektor ini dari segala bentuk praktik yang tidak sehat.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar