Cek Fakta: Video Simulasi Pandemi 2017 Ternyata Rekaman Profil Rumah Sakit Israel

- Kamis, 12 Februari 2026 | 13:05 WIB
Cek Fakta: Video Simulasi Pandemi 2017 Ternyata Rekaman Profil Rumah Sakit Israel

Yang lebih menarik, video viral di TikTok durasi 45 detik itu ternyata gabungan dua klip berbeda. Kalau dilacak, ada versi lengkapnya di YouTube dari 5 Maret 2021, durasinya lebih panjang, 1 menit 2 detik. Di bagian kedua, transisinya kentara, dan adegannya berubah total: petugas hazmat malah menari-nari.

Potongan video tarian ini sendiri ternyata punya cerita lain. Sudah diunggah Hamal News pada Juli 2020 dengan konteks perayaan pernikahan. Saat itu, video petugas hazmat menari memang jadi kontroversi di Israel, tapi sama sekali nggak ada hubungannya dengan latihan pandemi.

Lalu, bagaimana dengan kaitan ke berkas Epstein? Memang, jika kamu mencari "pandemic simulation" di dokumen Epstein yang dirilis, ada empat hasil. Tapi isinya cuma riwayat percakapan email atau chat biasa. Tidak ada pembahasan spesifik tentang simulasi pandemi di dalamnya. Jadi, pengaitannya benar-benar dipaksakan.

Kenapa Hoax Seperti Ini Cepat Menyebar?

Menurut psikolog Virginia Hanny yang diwawancarai DW Indonesia, otak manusia pada dasarnya tidak nyaman dengan hal yang tidak pasti. Jadi, kita sering secara tidak sadar menghubung-hubungkan dua peristiwa agar semuanya terasa lebih masuk akal. Ini yang disebut confirmation bias.

Ia menambahkan, hoax biasanya membawa muatan emosi kuat seperti ketakutan, kemarahan, atau kecurigaan. Nah, informasi yang memicu emosi seperti itu cenderung menyebar lebih cepat ketimbang informasi yang datar dan netral.

Untuk melawan bias ini, Hanny mengingatkan agar kita selalu kritis. Jangan langsung telan mentah-mentah informasi yang diterima.

Intinya, klaim video simulasi pandemi 2017 itu sudah terbantahkan. Videonya asli, tapi konteksnya dipelintir dan digabung dengan materi lain untuk menciptakan narasi yang sensasional. Di era informasi serba cepat seperti sekarang, selalu ada baiknya untuk berhenti sejenak dan mengecek ulang sebelum percaya atau sebelum ikut menyebarkannya.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar