"Kira-kira 10 ton per hari ya kira-kira. Jadi sampah di kelurahan, di desa itu kira-kira besarannya 10 ton per hari itu yang akan coba kita atasi," ujarnya.
Skema seperti ini punya tujuan yang jelas. Dengan mengolah sampah di tempat, pengangkutan sampah jarak jauh bisa ditekan drastis. Alhasil, penanganannya jadi lebih cepat dan efisien. Beban di tempat pembuangan akhir pun diharapkan bisa berkurang.
"Harapannya juga dengan begitu tidak ada mobilitas, mobilisasi sampah sehingga nanti lebih mengurangi ya. Jadi sampah tidak perlu dibuang jauh-jauh gitu ya, jadi semuanya bisa ditangani di tingkat kelurahan," jelas Brian.
Nah, perlu dicatat, program skala kecil ini berbeda dengan proyek waste to energy skala besar yang sempat ramai dibicarakan. Kalau yang satu ini, fokusnya bukan menghasilkan listrik. Outputnya adalah material padat seperti pasir.
"Kalo yang ini tidak menghasilkan listrik. Jadi ini hanya untuk menangani sampah menjadi pasir atau debu ya yang nanti bisa dipakai untuk mencampur, dicampur pasir untuk apa trotoar, untuk semen dan sebagainya," pungkasnya.
Jadi, intinya, sampah yang menggunung di lingkungan terdekat kita diharapkan bisa berubah menjadi material yang berguna. Langsung diolah di sekitar kita.
Artikel Terkait
Unpad Buka Akses Darurat untuk Ojol Usai Protes Aturan QR Code
MPR RI Terapkan Penghematan: Jam Kerja Dipangkas, Sistem 4 Hari Kerja Segera Diberlakukan
Menparekraf Incar Kerja Sama dengan Irlandia untuk Pacu Ekspor Kreatif
Bareskrim Bongkar Jaringan Emas Ilegal Senilai Rp 25,9 Triliun, Diduga TPPU