“Pupuk juga demikian. Kami punya 47 perusahaan anak, ini juga akan habis semua. Nanti hanya akan ada beberapa saja yang memang memproduksi pupuk kita,” jelas Dony.
Di sisi lain, sektor keuangan dan manajemen aset tak luput dari gebrakan. Lima belas perusahaan asuransi BUMN akan dilebur jadi hanya tiga: asuransi jiwa, umum, dan kredit. Bisnis manajemen aset juga akan disatukan dalam satu pintu.
Lalu, bagaimana dengan BUMN infrastruktur? Tujuh BUMN Karya seperti Hutama Karya hingga Waskita Karya (WSKT) sedang dalam proses merger yang ditargetkan tuntas pertengahan 2026. Menurut Dony, tahun sebelumnya fokusnya adalah memperbaiki kondisi keuangan perusahaan-perusahaan konstruksi itu terlebih dahulu.
“Kami tahun ini selesai melakukan proses perbaikan secara finansial. Tahun 2026 mereka masuk ke fase merger dan konsolidasi. Kami harapkan akan selesai juga di pertengahan tahun ini untuk mergernya,” urainya.
Terakhir, di sektor logistik yang ruwet, 21 perusahaan akan dikumpulkan jadi satu badan tunggal bernama Danantara Logistic Company. PT Pos Indonesia akan dijadikan jangkar utamanya.
Catatan: Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual instrumen investasi. Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab masing-masing individu.
Artikel Terkait
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di GBK
TNI AU Gelar Bakti Sosial, Berikan Kaki Palsu Gratis di Yogyakarta