Jakarta – Gelombang restrukturisasi besar sedang mengancang di tubuh BUMN. Pemerintah, lewat Danantara, bersiap melakukan perampingan portofolio secara masif. Caranya? Melalui berbagai skema, mulai dari merger hingga konsolidasi yang tak lagi terpaku pada sektor yang sama.
Tujuannya jelas: menyusutkan jumlah perusahaan pelat merah hingga hanya tersisa sekitar 300-an entitas. Dengan skala yang lebih besar, diharapkan daya saing dan kekuatan finansial mereka bakal lebih mumpuni di kancah global.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menerangkan langkah ini penting untuk menciptakan ekosistem BUMN yang lebih efisien.
“Harapannya, 300 perusahaan yang nanti bertahan itu punya skala signifikan untuk berkompetisi. Mereka harus kuat secara finansial, dan tentu saja, punya kapabilitas SDM yang memadai,” ujar Dony di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dampaknya akan luas. Ambil contoh PT Telkom Indonesia (TLKM). Rencananya, 66 anak perusahaan di bawah grup raksasa telekomunikasi ini akan dipangkas habis. Yang tersisa nanti hanya belasan entitas inti yang fokus pada empat pilar: telekomunikasi, serat optik (InfraCo), menara (Mitratel), dan pus data.
“Nantinya, semua dari bawah akan tergabung ke atas. Ini akan memotong banyak inefisiensi yang terjadi selama ini,” tegas Dony soal integrasi vertikal yang akan diterapkan.
Tak cuma Telkom. Sektor semen dan pupuk juga jadi sasaran. PT Semen Indonesia (SMGR) disebut akan menutup 17 anak perusahaannya. Sementara di kubu pupuk, goncangan terasa lebih keras. PT Pupuk Indonesia berencana melikuidasi 47 anak perusahaan.
Artikel Terkait
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di GBK
TNI AU Gelar Bakti Sosial, Berikan Kaki Palsu Gratis di Yogyakarta