Jadi, situasinya cukup ironis. Di satu sisi, ada kewajiban hukum yang jelas. Di sisi lain, pesawat itu bisa melintas begitu saja, seolah tak terjadi apa-apa.
Rute yang diambil Netanyahu kali ini ternyata bukan yang pertama. Akhir Desember lalu, dia juga lewat jalur yang persis sama saat terbang untuk bertemu Presiden AS Donald Trump. Sepertinya, ini sudah menjadi rute biasa baginya.
Lalu, apa implikasinya? Untuk sementara, tidak ada. Pesawat itu terus terbang, dan Netanyahu akan tetap sampai di tujuannya. Tapi episode ini meninggalkan tanda tanya besar tentang seberapa kuat sebenarnya otoritas hukum internasional ketika berhadapan dengan politik yang berjalan di lapangan.
Artikel Terkait
22 Migran Tewas dalam Penyelamatan Kapal di Perairan Kreta
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di GBK