“Dengan CKG ini kami dapat melakukan deteksi lebih awal, sehingga dapat dilakukan tindak lanjut agar kesehatan pelajar terjaga hingga dewasa nantinya,” ungkap Asnawi.
Selama ini, penanganan masalah mental seringkali baru dilakukan setelah kondisi berlangsung lama dan memburuk. Untuk mengubah pola ini, Kemenkes melibatkan guru sebagai garda terdepan dalam mengawasi kondisi psikologis siswa di lingkungan sekolah. Guru diharapkan dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal dan memastikan anak yang membutuhkan mendapatkan pemeriksaan kesehatan jiwa.
Tuntutan Prestasi sebagai Faktor Pemicu Utama
Asnawi memaparkan bahwa tingginya angka gejala depresi pada pelajar dipicu oleh berbagai faktor, dengan tekanan akademik dan tuntutan untuk berprestasi menempati posisi utama. Situasi ini memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
“Evaluasi kami pelajar ini mengalami gejala depresi karena banyak faktor. Faktor utama karena tuntutan prestasi. Jangan nanti setelah parah baru diketahui anak ini mengalami persoalan mental. Ini menjadi satu fokus dalam pelaksanaan cek kesehatan gratis bagi pelajar,” jelasnya.
Target yang Ditingkatkan untuk 2026
Sebagai respons atas temuan tersebut, Kemenkes berkomitmen untuk memperluas jangkauan program intervensi. Pada tahun 2026 ini, target peserta CKG dari kalangan pelajar dinaikkan secara signifikan menjadi 50 juta siswa. Angka ini melonjak dua kali lipat dari target tahun sebelumnya yang sebanyak 25 juta pelajar, menunjukkan urgensi yang ditempatkan pemerintah pada isu kesehatan mental anak dan remaja.
Artikel Terkait
Mulai Berlaku, Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Buka Media Sosial
Gubernur Sulsel Bahas Kerja Sama dan Stabilitas dengan Pejabat Kuasa Usaha AS
Samsat Keliling Polda Metro Jaya Beroperasi di Delapan Titik Hari Ini
Rano Karno Gulirkan Wacana Pemutaran Film Edukatif di Planetarium Jakarta