MURIANETWORK.COM - Iran menyatakan kesediaannya untuk menurunkan tingkat pengayaan uraniumnya, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi-sanksi oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan oleh pejabat tinggi energi atom negara itu, Mohammad Eslami, pada Senin (9/2) waktu setempat, tak lama setelah perundingan nuklir antara kedua negara kembali dihidupkan awal bulan ini. Tawaran ini menandai perkembangan terbaru dalam diplomasi yang tegang, yang sempat terhenti akibat konflik militer dengan Israel tahun lalu.
Pernyataan Resmi dari Pejabat Atom Iran
Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, secara eksplisit mengaitkan langkah penurunan pengayaan uranium dengan syarat politis dari Washington. Pernyataannya dikutip langsung oleh kantor berita resmi negara, IRNA, dan kemudian dilaporkan oleh sejumlah media internasional.
"Sebagai kesimpulan, menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan pengenceran kadar uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen... Kepala Organisasi Energi Atom mengatakan bahwa hal ini bergantung apakah semua sanksi akan dicabut sebagai imbalannya," demikian seperti dilaporkan IRNA News Agency.
Meski demikian, detail spesifik mengenai cakupan sanksi yang dimaksud apakah seluruhnya atau hanya yang diterapkan AS belum dijelaskan lebih lanjut. Nuansa ini menjadi poin krusial yang akan menentukan jalan perundingan ke depan.
Makna Teknis "Pengenceran" Uranium
Dalam konteks teknologi nuklir, "mengencerkan" uranium yang telah diperkaya adalah proses teknis untuk menurunkan konsentrasi isotop fisil. Caranya adalah dengan mencampur bahan yang telah diperkaya tinggi dengan material lain, sehingga kadar pengayaan akhirnya turun ke level yang disepakati. Langkah ini, jika dilakukan, akan bersifat reversibel dan membutuhkan pengawasan verifikasi yang ketat.
Latar Belakang Ketegangan yang Panjang
Posisi Iran saat ini tidak terlepas dari sejarah panjang perselisihan. Sebelum serangan udara terhadap fasilitas nuklirnya pada Juni tahun lalu, Iran telah secara terbuka meningkatkan pengayaan uranium hingga 60 persen. Angka itu jauh melampaui batas 3,67 persen yang diizinkan dalam Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA), yang praktis sudah tidak berfungsi.
Langkah Iran memperkaya uranium hingga level tinggi inilah yang memicu kekhawatiran mendalam di kalangan kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya. Mereka mencurigai program nuklir sipil Iran memiliki dimensi militer, sebuah tuduhan yang secara konsisten dan berulang kali dibantah keras oleh pemerintah di Teheran. Mereka bersikeras bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk tujuan damai, seperti pembangkit listrik dan keperluan medis.
Dengan demikian, tawaran terbaru dari Iran ini dipandang oleh para pengamat sebagai sebuah sinyal diplomatik. Namun, jalan menuju kesepakatan yang berkelanjutan masih dipenuhi dengan tantangan kompleks, mulai dari detail teknis verifikasi hingga kondisi politik yang lebih luas di kawasan.
Artikel Terkait
Ketua MA Peringatkan Ancaman Overload, Beban Hakim Agung Capai Rata-rata 2.384 Perkara per Tahun
Kemensos dan DPR Sepakat Perlu Perkuat Data Sosial sebagai Fondasi Kebijakan
Polsek Mampang Dirikan Posko di Lokasi Kebakaran untuk Permudah Pengurusan Dokumen Korban
Menteri Trenggono Klarifikasi Dana Kapal: Saya Enggak Ngerti Maksud Pak Purbaya