Ferdian Yazid menjelaskan temuan ini. "Para responden dari pebisnis ini banyak menjawab korupsi itu semakin banyak di Indonesia tahun 2025," jelasnya.
Kategori kedua yang juga merosot adalah Bertelsmann Foundation Transform Index, yang menilai efektivitas pencegahan dan penegakan hukum korupsi berdasarkan pandangan para pakar. Skor Indonesia di kategori ini turun sembilan poin, dari 48 menjadi 39.
"Ini menunjukkan persepsi pakar yang menjadi responden Indonesia ini sistem (pencegahan korupsi dan penegakan hukum) Indonesia masih tidak efektif," tutur Ferdian.
Posisi Indonesia dalam Peta Global dan Regional
Dengan skor 34, posisi Indonesia dalam peta persepsi korupsi global berada dalam kelompok yang sama dengan sejumlah negara seperti Aljazair, Malawi, dan Sierra Leone. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia sejajar dengan Laos, namun tertinggal sangat jauh dari Singapura yang memimpin dengan skor 84.
Ferdian menambahkan konteks perbandingan ini. "Berikut skor CPI negara lain yang yang memiliki skor yang sama. Jadi ada beberapa negara Afrika misalnya Aljazair, Malawi, Sierra Leone. Indonesia juga memiliki skor yang sama dengan negara tetangga Asean, Laos," katanya.
Data terbaru ini menyoroti tantangan berat yang dihadapi Indonesia. Stagnasi skor, ditambah dengan penurunan drastis dalam persepsi dunia usaha dan pakar terhadap efektivitas pencegahan korupsi, menjadi sinyal bahwa upaya penegakan hukum dan reformasi institusi perlu mendapatkan perhatian dan akselerasi yang lebih serius.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran, Kemacetan 5 Kilometer Paralyze Jalur Pantura Cirebon
Pemudik Sumbar Modifikasi Motor Jadi Replika Rumah Gadang dari Limbah Plastik
DPR Gelar RDPU Soal Kasus Videografer Amsal Sitepu Besok
Tiket Whoosh Tembus 293 Ribu untuk Mudik Lebaran 2026