MURIANETWORK.COM - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mendorong kerja sama internasional yang lebih erat di antara negara-negara BRICS untuk menjawab tantangan kompleks di pasar pangan, energi, dan komoditas strategis global. Dorongan ini disampaikan dalam pertemuan kelompok kerja BRICS di Kairo, Mesir, awal Februari 2026, yang juga menandai satu dekade inisiatif riset persaingan usaha blok tersebut.
Studi Bersama untuk Pasar Komoditas Global
Pertemuan yang dihadiri langsung oleh Ketua KPPU M. Fanshurullah Asa dan Anggota KPPU Budi Joyo Santoso itu membahas rencana konkret, yakni sebuah studi pasar bersama (joint market study) yang berfokus pada perdagangan gandum dan komoditas pangan strategis lainnya. Kajian mendalam ini dirancang sebagai instrumen kebijakan berbasis bukti untuk memetakan struktur pasar, mengidentifikasi hambatan, serta menganalisis risiko seperti konsentrasi kekuatan pasar dan asimetri informasi di sepanjang rantai pasok global.
Penting untuk dicatat, studi semacam ini berfungsi sebagai landasan analitis sebelum melangkah ke tahap penegakan hukum yang formal. Pendekatan ini mencerminkan kehati-hatian dan komitmen untuk memahami akar permasalahan secara menyeluruh terlebih dahulu.
Tantangan Struktural yang Kian Rumit
Dalam forum tersebut, Indonesia dan negara anggota BRICS lainnya menyoroti sejumlah tantangan struktural yang membuat lanskap perdagangan global semakin rumit. Isu-isu yang mengemuka tidak lagi sederhana, meliputi dominasi segelintir pelaku usaha internasional, integrasi vertikal yang mendalam, serta maraknya finansialisasi perdagangan komoditas. Ditambah lagi, pesatnya adopsi platform digital dalam transaksi dan pengelolaan data turut mengubah dinamika pasar.
Kombinasi faktor-faktor ini dinilai dapat menggerus stabilitas harga, mengancam ketahanan pasokan, dan pada akhirnya melemahkan posisi tawar negara berkembang serta konsumen biasa. Menghadapi realitas ini, KPPU menilai dibutuhkan pendekatan kebijakan persaingan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif, adaptif, dan dibangun melalui kolaborasi lintas batas negara.
M. Fanshurullah Asa, yang akrab disapa Ifan, menegaskan bahwa partisipasi aktif Indonesia dalam agenda BRICS adalah bagian dari strategi jangka panjang.
Artikel Terkait
Suami Laporkan Istri ke Polisi Diduga Jual Tiga Anak Kandung di Makassar
Timnas Indonesia Jalani Laga Debut John Herdman Kontra Saint Kitts Malam Ini
Wamenkominfo Apresiasi Persiapan Gala Dinner untuk Special Olympics 2026
Sri Lanka Imbau Pemilik Mobil Listrik Hindari Isi Daya Malam Hari