Megawati Bawa Pesan Diplomasi Nusantara ke Abu Dhabi, Terima Zayed Award dan Temui Putra Mahkota UEA

- Jumat, 06 Februari 2026 | 22:55 WIB
Megawati Bawa Pesan Diplomasi Nusantara ke Abu Dhabi, Terima Zayed Award dan Temui Putra Mahkota UEA

Ucapannya itu bukan nostalgia biasa. Itu penegasan garis ideologis. Bagi Bung Karno, diplomasi adalah medan perjuangan nilai. Semangat itulah yang kini dibawa Megawati, menempatkan Indonesia sebagai jembatan peradaban.

Kekaguman Putra Mahkota pada Bung Karno pun terlihat. Momen simbolik yang mendalam terjadi ketika Prananda Prabowo, putra kedua Megawati, menyerahkan buku "Api Islam Bung Karno" yang sudah diterjemahkan ke bahasa Arab.

Duduk berdampingan, Prananda menjelaskan inti pemikiran itu.

Ini bukan sekadar serah-terima buku. Lebih seperti transfer energi pemikiran lintas zaman. Memperkenalkan Islam Nusantara yang moderat ke jantung dunia Arab. Membangun jembatan antara samudra maritim dan samudra pasir.

Filosofi Sederhana yang Dalam

Di forum lain, Megawati memperkenalkan istilah 'Bung' kepada audiens internasional. Kedengarannya sederhana, ya? Tapi di baliknya ada filosofi dekolonialisasi yang radikal. 'Bung' adalah panggilan yang meruntuhkan jarak. Menolak hierarki feodal. Menegaskan kesetaraan sebagai fondasi kemerdekaan yang sejati.

Ada satu momen kecil lain yang saya ingat. Di buku tamu KBRI, Megawati menulis satu kata: Sabar. Bagi beliau, sabar bukan sikap pasif. Itu adalah disiplin politik yang menuntut ketahanan batin luar biasa. Di dunia yang serba reaktif, kesabaran justru bentuk keberanian tertinggi. Ini memang ciri khas kepemimpinannya sejak dulu.

Jejak yang Membekas

Keseluruhan kunjungan ini, bagi saya, mencerminkan satu hal: nurturing diplomacy. Diplomasi yang mengasuh. Ia tak bicara dengan bahasa kepentingan semata, tapi dengan bahasa sejarah, etika, dan empati yang merawat ruang dialog.

Jika generasi pendiri bangsa bicara soal nation and character building, Megawati memperluasnya ke world and character building. Pancasila, dalam tafsirnya, menjadi tawaran etis bagi dunia yang sedang krisis makna dan identitas.

Di tengah kebisingan pertarungan kepentingan global, jejak Megawati Soekarnoputri mungkin terasa lirih. Tapi ia membekas. Membuktikan bahwa di tangan pemimpin yang paham luka peradaban, diplomasi bisa menjadi alat transformasi batin bangsa-bangsa. Sebuah jejak teduh Sang Nareswari, merawat peradaban dengan kasih, kesabaran, dan keberanian sejarah.


Abu Dhabi, 6 Februari 2026
Dr. Ahmad Basarah
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri, Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar