Megawati Bawa Pesan Diplomasi Nusantara ke Abu Dhabi, Terima Zayed Award dan Temui Putra Mahkota UEA

- Jumat, 06 Februari 2026 | 22:55 WIB
Megawati Bawa Pesan Diplomasi Nusantara ke Abu Dhabi, Terima Zayed Award dan Temui Putra Mahkota UEA

Tanggal 1 hingga 6 Februari 2026. Selama seminggu itu, saya mendampingi Ibu Megawati Soekarnoputri Presiden kelima kita, sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan dalam lawatannya ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kunjungan ini bukan sembarang acara. Ada dua undangan istimewa yang menyertainya: Zayed Award for Human Fraternity dan undangan pribadi dari Sang Putra Mahkota UEA, Yang Mulia Syaikh Khaled bin Muhammad Zayed Al Nahyan.

Banyak hal saya tangkap dari perjalanan itu. Pesan moral, semangat kebangsaan, hal-hal yang terasa sayang kalau cuma jadi kenangan pribadi. Maka, saya coba tuangkan di sini.

Politik global sekarang ini riuh. Seringkali cuma soal kekuatan dan strategi keras. Tapi di Abu Dhabi, awal Februari lalu, nuansa berbeda terasa. Sebuah narasi lama dari bangsa-bangsa Selatan kembali mengemuka: bahwa dunia ini bisa ditata dengan solidaritas, dengan martabat, dengan keberanian moral. Bukan cuma dominasi.

Megawati Soekarnoputri, Sang Nareswari, hadir di sana. Kehadirannya bukan sekadar sebagai utusan politik biasa. Lebih dari itu, ia adalah pembawa pesan peradaban. Sebuah pesan yang berakar dalam dari sejarah dan budaya Nusantara, lahir dari pengalaman panjang bangsanya sendiri.

Di jantung negara yang megah itu, ia datang untuk sesuatu yang lebih besar. Bukan cuma negosiasi kepentingan sempit. Tapi untuk mengingatkan kembali dimensi etika dalam hubungan antar bangsa. Di era yang serba pragmatis, kehadirannya seperti pengingat. Bahwa diplomasi sejati itu bicara tentang nurani, bukan cuma kuasa.

Inilah wajah diplomasi yang dulu diperjuangkan Bung Karno. Sebuah diplomasi yang menolak tunduk pada blok kekuatan mana pun. Diplomasi yang berdiri sebagai suara hati nurani yang merdeka dan bermartabat.

Lebih Dari Sekadar Protokol

Acara Zayed Award for Human Fraternity itu sendiri sudah istimewa. Tapi kunjungan ini melampauinya. Di forum bergengsi itu, Megawati menyulam kembali benang-benang kemanusiaan yang sering terputus oleh ego ideologi. Dengan membawa ruh Pancasila, ia menegaskan bahwa perbedaan itu mozaik, bukan retakan.

Prinsipnya yang teguh inilah yang membuatnya dihormati. Tak heran, Grand Imam Al-Azhar dan almarhum Sri Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi anggota Dewan Juri award ini di 2024. Dan berkat kewibawaannya di dewan itu, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bisa meraih penghargaan Zayed Award di tahun yang sama. Sebuah pengakuan global untuk Islam Indonesia yang moderat.

Di sela agenda resmi, ruangannya ramai oleh tamu kehormatan. Mulai dari Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, mantan Presiden Kosovo, hingga para pemenang award tahun ini. Suasana hangat. Pertemuan-pertemuan itu membuktikan satu hal: kepemimpinan yang berbasis nilai kemanusiaan punya daya magnet yang luar biasa. Melampaui jabatan, ideologi, bahkan agama.

Pertemuan yang Menyimpan Makna

Namun, puncaknya mungkin adalah pertemuan dengan Putra Mahkota UEA. Dalam suasana akrab, Megawati membuka cerita tentang akar kepemimpinannya.

"Bung Karno mengajarkan saya tentang keteguhan, keyakinan, kesabaran, dan keberanian. Nilai-nilai itulah yang menjadi landasan saya menjaga Indonesia,"

Ucapannya itu bukan nostalgia biasa. Itu penegasan garis ideologis. Bagi Bung Karno, diplomasi adalah medan perjuangan nilai. Semangat itulah yang kini dibawa Megawati, menempatkan Indonesia sebagai jembatan peradaban.

Kekaguman Putra Mahkota pada Bung Karno pun terlihat. Momen simbolik yang mendalam terjadi ketika Prananda Prabowo, putra kedua Megawati, menyerahkan buku "Api Islam Bung Karno" yang sudah diterjemahkan ke bahasa Arab.

Duduk berdampingan, Prananda menjelaskan inti pemikiran itu.

"Api Islam Bung Karno menegaskan bahwa Islam adalah agama yang hidup, dinamis, dan berkemajuan. Islam harus digali apinya, bukan abunya,"

Ini bukan sekadar serah-terima buku. Lebih seperti transfer energi pemikiran lintas zaman. Memperkenalkan Islam Nusantara yang moderat ke jantung dunia Arab. Membangun jembatan antara samudra maritim dan samudra pasir.

Filosofi Sederhana yang Dalam

Di forum lain, Megawati memperkenalkan istilah 'Bung' kepada audiens internasional. Kedengarannya sederhana, ya? Tapi di baliknya ada filosofi dekolonialisasi yang radikal. 'Bung' adalah panggilan yang meruntuhkan jarak. Menolak hierarki feodal. Menegaskan kesetaraan sebagai fondasi kemerdekaan yang sejati.

Ada satu momen kecil lain yang saya ingat. Di buku tamu KBRI, Megawati menulis satu kata: Sabar. Bagi beliau, sabar bukan sikap pasif. Itu adalah disiplin politik yang menuntut ketahanan batin luar biasa. Di dunia yang serba reaktif, kesabaran justru bentuk keberanian tertinggi. Ini memang ciri khas kepemimpinannya sejak dulu.

Jejak yang Membekas

Keseluruhan kunjungan ini, bagi saya, mencerminkan satu hal: nurturing diplomacy. Diplomasi yang mengasuh. Ia tak bicara dengan bahasa kepentingan semata, tapi dengan bahasa sejarah, etika, dan empati yang merawat ruang dialog.

Jika generasi pendiri bangsa bicara soal nation and character building, Megawati memperluasnya ke world and character building. Pancasila, dalam tafsirnya, menjadi tawaran etis bagi dunia yang sedang krisis makna dan identitas.

Di tengah kebisingan pertarungan kepentingan global, jejak Megawati Soekarnoputri mungkin terasa lirih. Tapi ia membekas. Membuktikan bahwa di tangan pemimpin yang paham luka peradaban, diplomasi bisa menjadi alat transformasi batin bangsa-bangsa. Sebuah jejak teduh Sang Nareswari, merawat peradaban dengan kasih, kesabaran, dan keberanian sejarah.


Abu Dhabi, 6 Februari 2026
Dr. Ahmad Basarah
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri, Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar