Dinamika sidang berubah ketika salah seorang hakim anggota, Sunoto, menyampaikan pertanyaan yang mengejutkan. Terkesan dengan ketenangan dan kelugasan Fiona dalam memberikan keterangan, hakim penasaran untuk mengetahui tingkat Intelligence Quotient (IQ) sang saksi.
"Jadi dari beberapa saksi yang saya perhatikan Saudara kelihatan tenang ya, lugas, cepat begitu. Jadi kalau misalnya saya boleh tahu IQ-nya berapa? Nggak, ya ini kalau mau menjawab," ujar hakim Sunoto.
Setelah awalnya menjawab tidak ingat, Fiona akhirnya menyebut angkanya saat hakim memberikan kisaran. "147," ucapnya.
Angka tersebut langsung mendapat respons dari hakim yang menyebutkannya sebagai tingkat kecerdasan yang "sangat superior". Namun, hal itu disusul dengan sentilan halus karena Fiona dinilai kerap lupa dalam menjawab beberapa pertanyaan di persidangan.
"Oh 147, 147 itu oh sangat superior ya. Kan sudah di atas 130. Jadi kalau diajak bicara fisika kuantum gitu nyambung Saudara," tutur hakim.
Fiona dengan cepat membalas, "Saya tidak menguasai fisika kuantum, Yang Mulia."
Hakim kemudian melanjutkan, "Nggak, orang bisa diajak bicara itu manakala IQ-nya ya 130 ke atas. Makanya saya perhatikan tadi Saudara tap-tap-tap. Tapi ya banyak lupanya."
Dengan gaya yang santai, Fiona merespons sentilan tersebut, "Betul, saya pikun banget."
Interaksi ini menyisakan kesan unik dalam sidang yang serius, sekaligus menggarisbawahi tekanan yang mungkin dihadapi seorang saksi di hadapan majelis hakim, terlepas dari latar belakang atau kapasitas kognitif mereka.
Artikel Terkait
ASDP Siapkan Kapal Khusus Motor Jika Arus Balik di Bakauheni Padat
Arus Balik Lebaran Meningkat 50%, Pengelola Tol Siagakan Rekayasa Lalu Lintas
Pesawat Militer Kolombia Jatuh di Perbatasan, Puluhan Tewas
Nintendo Switch 2 Didesain dengan Baterai Mudah Diganti, Respons Aturan Uni Eropa