Prediksi Awal Ramadan Berdasarkan Hilal Lokal
Djamaluddin memaparkan analisisnya berdasarkan kriteria hilal lokal yang mensyaratkan visibilitas bulan sabit dapat teramati di wilayah Indonesia. Hasil perhitungan astronomis menunjukkan bahwa pada saat matahari terbenam tanggal 17 Februari 2026, posisi hilal masih berada di bawah ufuk. Artinya, bulan sabit baru tersebut secara fisik mustahil untuk dilihat atau dirukyat dari seluruh wilayah tanah air.
“Kementerian Agama dan sebagian besar ormas Islam menggunakan kriteria 'hilal lokal', yang mensyaratkan posisi hilal memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Indonesia. Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026,” jelasnya.
Dengan demikian, jika sidang isbat mengikuti hasil rukyat yang diprediksi gagal melihat hilal, maka penetapan 1 Ramadan akan mengacu pada sistem istikmal (menggenapkan bulan Syakban menjadi 30 hari). Prediksi ini memberikan gambaran yang cukup jelas meski keputusan resmi tetap berada di tangan pemerintah melalui sidang isbat yang akan datang.
Artikel Terkait
Basarnas, TNI, dan Polri Siapkan 561 Pos Siaga untuk Mudik Lebaran 2026
Polisi Amankan Arus Mudik Laut di Dermaga Kali Adem Muara Angke
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Raih Podium Perdana di Moto3 Brasil
Konfrontasi AS-Israel-Iran Ubah Peta Persepsi dan Kekuatan di Timur Tengah