Ia menambahkan, fokus transformasi digital di BRI bukan cuma mengejar volume. Yang tak kalah penting adalah kualitas layanan dan keandalan sistem itu sendiri. Dengan memperkuat arsitektur teknologi dan memodernisasi infrastruktur, BRI berusaha memastikan layanan digitalnya tetap stabil dan aman, meski beban transaksi terus membengkak.
Semua ini adalah bagian dari program besar mereka, BRIVolution Reignite. Program berkelanjutan itu rupanya membuahkan hasil nyata, yang tercermin dari kinerja BRImo sepanjang tahun lalu.
Dampaknya pun terasa luas. Pertumbuhan transaksi digital yang pesat ini turut berkontribusi pada penguatan struktur pendanaan bank, khususnya dana murah. Ini fondasi yang krusial untuk fungsi intermediasi perbankan. Dengan pondasi yang makin kuat, BRI punya ruang lebih leluasa untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif dan ekonomi kerakyatan.
Di sisi lain, BRImo sendiri tak cuma diam. Aplikasi ini terus dikembangkan agar tak sekadar jadi alat transaksi, tapi juga pusat layanan finansial yang terintegrasi. Penguatan fitur dan sistem dilakukan bertahap, tujuannya jelas: memastikan aplikasi bisa mengikuti kebutuhan nasabah yang cepat berubah, tanpa mengorbankan aspek keamanan dan keandalan.
Artikel Terkait
Pelatih Kaledonia Baru Umumkan Skuad 26 Pemain untuk Perebutan Tiket Piala Dunia 2026
Tabrakan Beruntun di Jalan Layang MBZ KM 16, Lalu Lintas Tersendat
RM BTS Alami Cedera Pergelangan Kaki, Tetap Tampil dengan Pembatasan Gerak
Polisi Tangkap Pria di Rokan Hilir Diduga Bakar Lahan untuk Tanam Sawit