Lalu, apa yang mengubah pikirannya?
"Waktu itu Prof Anwar dan Prof Harjono yang datang ke ruang saya," kenang Arief. Mereka mendesaknya agar bersedia dicalonkan sebagai Wakil Ketua MK.
Ajakan itu awalnya ditolak. Tapi Anwar dan Harjono, yang juga merupakan guru dan figur yang dihormatinya, terus mendesak. Berkali-kali mereka membujuk. Akhirnya, Arief luluh juga.
"Akhirnya saya iyakan karena ini amanah," ujarnya. "Dari Pak Harjono, itu guru saya waktu S2 di Unair. Kemudian juga dari ustad dari Bima yang mendorong. Akhirnya saya bersedia."
Jadilah dia pimpinan di Mahkamah Konstitusi, sebuah perjalanan yang dimulai dari sebuah ajakan di ruang kerjanya. Dan di hari perpisahannya, orang yang dulu memintanya untuk maju, duduk di depan, mendengarkan dengan seksama. Bersama-sama menyongsong masa pensiun.
Artikel Terkait
BRI Pacu UMKM Naik Kelas Lewat Program Klaster Usaha
Trump Kritik Ekspresi Wartawati Saat Ditanya Soal Kasus Epstein
Prabowo Soroti Hilangnya Rumah Radio Bung Tomo, Ahli Sebut Keteledoran Kolektif
Dendam dan Ideologi Ekstrem: Siswa SMP Kubu Raya Lempar Bom Molotov di Sekolah