Nah, dalam kondisi kebangsaan seperti itu, kepemimpinan tidak bisa hanya mengandalkan kewenangan formal belaka. Megawati menekankan perlunya kesadaran historis, empati sosial, dan yang tak kalah penting, kemampuan untuk benar-benar mendengarkan suara rakyat. Pengalaman berkeliling Indonesia sejak muda memberinya perspektif mendalam tentang perbedaan-perbedaan itu.
"Dan saya melihat banyak sekali yang berbeda," kenangnya.
"Pandangan ini saya rasakan relevansinya secara nyata ketika memimpin Indonesia dalam masa transisi demokrasi yang rapuh pada awal dekade 2000-an."
Masa itu memang penuh tantangan. Namun begitu, selama memimpin, Megawati mengaku selalu mengutamakan pendekatan dialog dalam menyelesaikan konflik. Musyawarah, baginya, adalah kunci. Cara itu terbukti mampu meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi rekonsiliasi nasional.
Dari situlah keyakinannya tumbuh. Pancasila, bagi Megawati, jauh lebih dari sekadar ideologi formal di atas kertas. Ia adalah jiwa bangsa. Ia berfungsi sebagai fondasi untuk berpijak dan sekaligus bintang penuntun arah perjuangan Indonesia ke depan.
Artikel Terkait
DPRD Se-Indonesia Protes Pemotongan Dana Transfer ke Daerah
Megawati Bicara di Abu Dhabi: Gotong Royong Kunci Redam Konflik Horizontal
Megawati: Perempuan Tak Perlu Terjebak Dilema Palsu antara Rumah dan Masyarakat
Megawati: Perempuan Tak Perlu Terjebak Pilihan antara Rumah dan Masyarakat