Munculnya asap berwarna oranye dari sebuah pabrik di Cilegon, Banten, tentu saja menimbulkan kecemasan. Anggota Komisi XII DPR dari PDI Perjuangan, Shanty Alda Nathalia, pun angkat bicara. Baginya, respons cepat saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah investigasi mendalam dan perhatian serius pada nasib warga sekitar.
Shanty mengaku sudah menghubungi Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq. Kata dia, tim dari kementerian sudah dikirim ke lokasi kejadian.
“Saya sudah menghubungi Menteri LH dan tim sudah diturunkan. Ini respons taktis yang kita butuhkan,” ujar Shanty kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).
“Namun, pekerjaan belum selesai. Saya meminta tim bekerja objektif untuk pemeriksaan yang menyeluruh. Jangan cuma lihat permukaannya saja, tapi selami sampai ke akar-akarnya.”
Bagi Shanty, kepulan asap oranye itu bukan sekadar insiden kecil. Itu adalah tanda nyata ada yang salah dengan sistem di pabrik tersebut. Ia mendesak agar audit keselamatan dilakukan secara komprehensif, bukan sekadar melihat apa yang terjadi di permukaan.
“Pemeriksaan menyeluruh ini mutlak. Tim harus membedah apakah ini murni kegagalan teknologi, human error, atau adanya pembiaran terhadap standar perawatan,” tegasnya.
“Hasilnya harus transparan dan objektif. Ini menyangkut kepercayaan publik, bahkan keselamatan nyawa orang banyak.”
Di sisi lain, poin yang paling ia soroti adalah nasib warga sekitar. Tanggung jawab perusahaan, dalam pandangannya, tidak boleh berhenti saat asapnya hilang. Perlu ada skema rehabilitasi yang jelas dan terukur untuk mereka.
“Yang tidak kalah penting, dan ini poin krusialnya, adalah rehabilitasi warga. Paparan bahan kimia risikonya bisa laten, tidak langsung kelihatan sekarang tapi berbahaya untuk jangka panjang. Karena itu, rehabilitasi kesehatan adalah harga mati,” kata Shanty.
Ia menuntut pemerintah memastikan perusahaan menanggung semua biaya pemulihan, baik fisik maupun psikologis. Pemantauan medis lanjutan juga diperlukan untuk memastikan kesehatan pernapasan warga benar-benar aman dari residu kimia.
“Negara harus hadir memastikan rakyatnya terlindungi. Rehabilitasi ini bentuk pertanggungjawaban moral dan hukum. Jangan sampai warga dibiarkan berjuang sendiri melawan dampak kesehatan nantinya, setelah berita ini tenang,” pungkas Shanty.
Artikel Terkait
Imlek 2026 Siapkan Long Weekend Empat Hari, Catat Tanggalnya!
Ciujung Meluap, Tol Jakarta-Merak Lumpuh Akibat Banjir 10 Kilometer
Hilal Ramadan 2026 Diprediksi Baru Terlihat 18 Februari
PPATK Kebanjiran 43 Juta Laporan Transaksi Sepanjang 2025