Salah satu pedagang yang sibuk melayani pembeli adalah Aman, pria 40 tahun yang khusus berjualan angpau dan aksesori keberuntungan lainnya. Wajahnya sumringah melihat antusiasme pengunjung.
Katanya sambil menata ulang dagangannya. Dibanding hari biasa, omzetnya melonjak cukup signifikan. Dari sekian banyak barang yang dijual, tempelan kertas bertuliskan ‘cuan’ jadi primadona dan paling cepat habis. Sepertinya, harapan untuk rezeki berlimpah memang selalu jadi idaman banyak orang, terutama di tahun baru Imlek.
Nuansa festival begitu kental terasa. Di balik keriuhan transaksi jual-beli, ada semangat dan kegembiraan menyambut tradisi yang telah berumur ratusan tahun. Suasana seperti inilah yang hanya bisa ditemui setahun sekali, ketika Glodok berubah menjadi lautan merah dan emas.
Artikel Terkait
Di Balik Retorika Panas, Iran dan AS Diam-diam Lanjutkan Negosiasi
Polda Metro Jaya Cegah Indah Megahwati ke Luar Negeri Terkait Kasus Korupsi Kementan
Pekerja Migran Indonesia Tewas di Kapal Korea, Pemerintah Janji Kawal Hak Keluarga
Jembatan Tua Ambruk, Empat Desa di Pandeglang Terisolasi