Hujan tak henti-hentinya mengguyur. Di tengah kondisi lingkungan yang sudah kritis, ancaman terhadap bangunan dan ruang bawah tanah pun semakin nyata. Tekanan air yang kian besar bukan main-main; ia bisa memicu tanah longsor dan menggerogoti kekuatan infrastruktur vital seperti jembatan, terowongan, dan basement.
Yang berbahaya, retakan pada dinding terowongan atau ruang bawah tanah seringkali menjalar tanpa terlihat. Baik yang tampak maupun yang tersembunyi, semua retak itu harus segera ditangani. Kalau tidak, akibatnya bisa fatal.
Di sisi lain, instansi terkait dituntut untuk lebih saksama dan mengedepankan tindakan teknis yang tepat. Pasca bencana entah itu banjir, longsor, atau gempa kerusakan serius bisa saja bersembunyi di bagian dalam struktur, meski dari luar tampak utuh. Itulah mengapa inspeksi tidak boleh lagi mengandalkan mata telanjang belaka.
Sayangnya, yang kerap terjadi justru ironis. Setelah bencana berlalu, tindakan perbaikan seringkali hanya sebatas mengecat ulang dinding. Padahal, langkah pertama yang mestinya dilakukan adalah inspeksi mendalam dengan alat ukur lebar retak beton.
Alat uji non-destructive test (NDT) ini sangat penting untuk pengawasan dan perawatan mutu beton. Fungsinya utama: mengukur lebar retakan pada permukaan beton. Alat ini banyak dipakai untuk pengujian non-destruktif pada retakan jembatan, terowongan, dan berbagai struktur beton lainnya.
Sistemnya bekerja dengan mengambil gambar retakan secara otomatis. Hasilnya ditampilkan secara real-time, dan datanya bisa disimpan untuk analisis lebih lanjut.
Menganalisis penyebab dan solusi keretakan pada dinding terowongan dan bangunan bawah tanah memang krusial. Terutama pasca bencana alam. Pada dasarnya, struktur bawah tanah ini menahan beban lateral dari segala sisi. Jika retak muncul dan ada konsentrasi air di sekitarnya, kerusakan bisa dengan cepat merambat.
Untuk menangani kebocoran, umumnya ada dua metode. Pemilihannya tergantung pada skala dan titik bocornya.
Pertama, metode Grouting. Caranya dengan menyuntikkan cairan semen ke dalam bagian dinding yang bocor.
Kedua, plester. Metode ini cocok untuk kerusakan ringan seperti retak rambut atau coakan di area kecil.
Grouting biasanya dipilih untuk kerusakan yang lebih luas dan dalam, terutama bagian yang nyaris runtuh dan membutuhkan pengecoran ulang skala besar.
Seiring maraknya pembangunan infrastruktur bawah tanah mulai dari terowongan hingga basement gedung analisis perilaku konstruksi untuk mencegah kerusakan jadi semakin diperlukan.
Para ahli teknik sipil pun terus meneliti, mencoba memahami perilaku yang memicu retakan dan pergeseran, seringkali dengan menggunakan model simulasi.
Salah satu fokus perhatian adalah retakan pada cangkang terowongan, misalnya pada model konstruksi NATM (New Austrian Tunnelling Method).
Soal ini, Lackner dan Mang (2003) pernah melakukan analisis menarik. Mereka menggunakan metode hybrid yang menggabungkan pengukuran pada beton untuk meneliti perilaku lapisan shotcrete.
Artikel Terkait
Randu Alas Raksasa Tuksongo Akhirnya Tumbang, Sebagian Batang Dijadikan Monumen
Video Perundungan Siswi SMP di Surabaya Berawal dari Rebutan Pacar
Bamsoet Desak MPR Jadi Pintu Darurat Saat Negara Terjebak Kebuntuan
Razia Malam di Bojongsari, Bandar Tramadol Ilegal Digulung Polisi