Retak di Bawah Tanah: Saat Hujan Menguji Kekuatan Terowongan dan Basement

- Minggu, 01 Februari 2026 | 10:25 WIB
Retak di Bawah Tanah: Saat Hujan Menguji Kekuatan Terowongan dan Basement

Hujan tak henti-hentinya mengguyur. Di tengah kondisi lingkungan yang sudah kritis, ancaman terhadap bangunan dan ruang bawah tanah pun semakin nyata. Tekanan air yang kian besar bukan main-main; ia bisa memicu tanah longsor dan menggerogoti kekuatan infrastruktur vital seperti jembatan, terowongan, dan basement.

Yang berbahaya, retakan pada dinding terowongan atau ruang bawah tanah seringkali menjalar tanpa terlihat. Baik yang tampak maupun yang tersembunyi, semua retak itu harus segera ditangani. Kalau tidak, akibatnya bisa fatal.

Di sisi lain, instansi terkait dituntut untuk lebih saksama dan mengedepankan tindakan teknis yang tepat. Pasca bencana entah itu banjir, longsor, atau gempa kerusakan serius bisa saja bersembunyi di bagian dalam struktur, meski dari luar tampak utuh. Itulah mengapa inspeksi tidak boleh lagi mengandalkan mata telanjang belaka.

Sayangnya, yang kerap terjadi justru ironis. Setelah bencana berlalu, tindakan perbaikan seringkali hanya sebatas mengecat ulang dinding. Padahal, langkah pertama yang mestinya dilakukan adalah inspeksi mendalam dengan alat ukur lebar retak beton.

Alat uji non-destructive test (NDT) ini sangat penting untuk pengawasan dan perawatan mutu beton. Fungsinya utama: mengukur lebar retakan pada permukaan beton. Alat ini banyak dipakai untuk pengujian non-destruktif pada retakan jembatan, terowongan, dan berbagai struktur beton lainnya.

Sistemnya bekerja dengan mengambil gambar retakan secara otomatis. Hasilnya ditampilkan secara real-time, dan datanya bisa disimpan untuk analisis lebih lanjut.

Menganalisis penyebab dan solusi keretakan pada dinding terowongan dan bangunan bawah tanah memang krusial. Terutama pasca bencana alam. Pada dasarnya, struktur bawah tanah ini menahan beban lateral dari segala sisi. Jika retak muncul dan ada konsentrasi air di sekitarnya, kerusakan bisa dengan cepat merambat.

Untuk menangani kebocoran, umumnya ada dua metode. Pemilihannya tergantung pada skala dan titik bocornya.

Pertama, metode Grouting. Caranya dengan menyuntikkan cairan semen ke dalam bagian dinding yang bocor.

Kedua, plester. Metode ini cocok untuk kerusakan ringan seperti retak rambut atau coakan di area kecil.

Grouting biasanya dipilih untuk kerusakan yang lebih luas dan dalam, terutama bagian yang nyaris runtuh dan membutuhkan pengecoran ulang skala besar.

Seiring maraknya pembangunan infrastruktur bawah tanah mulai dari terowongan hingga basement gedung analisis perilaku konstruksi untuk mencegah kerusakan jadi semakin diperlukan.

Para ahli teknik sipil pun terus meneliti, mencoba memahami perilaku yang memicu retakan dan pergeseran, seringkali dengan menggunakan model simulasi.

Salah satu fokus perhatian adalah retakan pada cangkang terowongan, misalnya pada model konstruksi NATM (New Austrian Tunnelling Method).

Soal ini, Lackner dan Mang (2003) pernah melakukan analisis menarik. Mereka menggunakan metode hybrid yang menggabungkan pengukuran pada beton untuk meneliti perilaku lapisan shotcrete.

Sementara itu, terowongan untuk transportasi seperti kereta api atau jalan tol sering dibangun dengan mesin bor raksasa (TBM). Dindingnya terbuat dari segmen beton precast yang disusun melingkar oleh mesin tersebut.

Nah, inspeksi teratur pada terowongan mutlak diperlukan. Ini jadi dasar diagnosis untuk perawatan, agar terowongan tetap berfungsi dengan baik dan aman. Ia harus mampu menahan berbagai beban: dari tanah di atasnya, beban mati dan hidup, tekanan air, hingga guncangan gempa.

Berdasarkan berbagai penelitian, kerusakan dinding terowongan umumnya dikelompokkan jadi dua: kebocoran dan keretakan. Pemeriksaannya harus detail, mencakup baut segmen, sambungan antar segmen, dan struktur betonnya sendiri.

Untuk perawatan kebocoran, langkah yang lazim adalah Grouting dengan cairan poliuretan atau mengganti sealing karet pada baut.

Keretakan sendiri punya karakter yang beragam. Klasifikasinya penting sebagai panduan untuk memilih metode perawatan yang tepat. Tindakan perbaikan baru dilakukan setelah data pemeriksaan terkumpul dan terklasifikasi dengan baik.

Prioritas perawatannya pun disusun berdasarkan tingkat urgensi semakin kecil angka keamanannya, semakin cepat harus ditangani.

Di luar teknis konstruksi, usaha mitigasi bencana seperti longsor sangat bergantung pada informasi geospasial. Ke depan, peran Badan Informasi Geospasial (BIG) akan semakin sentral.

Namun begitu, sangat disayangkan, pemanfaatan peta dan analisis dari BIG oleh pemerintah daerah untuk mitigasi bencana khususnya longsor masih terbatas.

Padahal, peran BIG, terutama pasca-bencana, sangat menentukan. Ujung tombaknya ada pada Satuan Reaksi Cepat (SRC) Kebencanaan BIG.

Langkah pertama tim SRC-BIG di lapangan adalah rapid mapping mengorientasi medan lokasi bencana.

Setelah berdiskasi dan memahami situasi, mereka lalu menyusun peta rencana kerja berdasarkan orientasi medan dan data IG yang sudah disiapkan.

Data yang biasa digunakan antara lain Peta Morfometri Nasional skala 1:250.000 dan data kontur Rupabumi skala 1:25.000 di sekitar lokasi longsor.

Dari data-data itulah kemudian bisa didapat informasi detail: titik pasti lokasi longsor, kemiringan lereng, bentuk mahkota longsoran, serta sebaran daerah yang terdampak.

Totok Siswantara. Pengkaji Transformasi Teknologi dan Infrastruktur. Lulusan Program Profesi Insinyur ITI.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler