Sementara itu, terowongan untuk transportasi seperti kereta api atau jalan tol sering dibangun dengan mesin bor raksasa (TBM). Dindingnya terbuat dari segmen beton precast yang disusun melingkar oleh mesin tersebut.
Nah, inspeksi teratur pada terowongan mutlak diperlukan. Ini jadi dasar diagnosis untuk perawatan, agar terowongan tetap berfungsi dengan baik dan aman. Ia harus mampu menahan berbagai beban: dari tanah di atasnya, beban mati dan hidup, tekanan air, hingga guncangan gempa.
Berdasarkan berbagai penelitian, kerusakan dinding terowongan umumnya dikelompokkan jadi dua: kebocoran dan keretakan. Pemeriksaannya harus detail, mencakup baut segmen, sambungan antar segmen, dan struktur betonnya sendiri.
Untuk perawatan kebocoran, langkah yang lazim adalah Grouting dengan cairan poliuretan atau mengganti sealing karet pada baut.
Keretakan sendiri punya karakter yang beragam. Klasifikasinya penting sebagai panduan untuk memilih metode perawatan yang tepat. Tindakan perbaikan baru dilakukan setelah data pemeriksaan terkumpul dan terklasifikasi dengan baik.
Prioritas perawatannya pun disusun berdasarkan tingkat urgensi semakin kecil angka keamanannya, semakin cepat harus ditangani.
Di luar teknis konstruksi, usaha mitigasi bencana seperti longsor sangat bergantung pada informasi geospasial. Ke depan, peran Badan Informasi Geospasial (BIG) akan semakin sentral.
Namun begitu, sangat disayangkan, pemanfaatan peta dan analisis dari BIG oleh pemerintah daerah untuk mitigasi bencana khususnya longsor masih terbatas.
Padahal, peran BIG, terutama pasca-bencana, sangat menentukan. Ujung tombaknya ada pada Satuan Reaksi Cepat (SRC) Kebencanaan BIG.
Langkah pertama tim SRC-BIG di lapangan adalah rapid mapping mengorientasi medan lokasi bencana.
Setelah berdiskasi dan memahami situasi, mereka lalu menyusun peta rencana kerja berdasarkan orientasi medan dan data IG yang sudah disiapkan.
Data yang biasa digunakan antara lain Peta Morfometri Nasional skala 1:250.000 dan data kontur Rupabumi skala 1:25.000 di sekitar lokasi longsor.
Dari data-data itulah kemudian bisa didapat informasi detail: titik pasti lokasi longsor, kemiringan lereng, bentuk mahkota longsoran, serta sebaran daerah yang terdampak.
Totok Siswantara. Pengkaji Transformasi Teknologi dan Infrastruktur. Lulusan Program Profesi Insinyur ITI.
Artikel Terkait
Jenazah Tanpa Identitas Ditemukan Saat Evakuasi Bangkai Kapal di Selat Bali
Israel Buka Kembali Rafah, Akses Terbatas untuk Warga Sipil
Prabowo Gelar Rapat Maraton, Bahas Korupsi hingga Davos
Api Abadi Mrapen Padam, Api yang Konon Tak Pernah Redup Akhirnya Mati