Kerja sama nyata sudah berjalan, misalnya lewat SAMASAMA Lab. Inisiatif ini melibatkan Netherlands Film Fund (NFF), Manajemen Talenta Nasional, dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI). Tujuannya mendorong pengembangan film dan pertukaran talenta. Kolaborasi serupa juga terjalin dengan festival seperti JAFF dan Jakarta Film Week.
Dalam kunjungannya, Fadli Zon juga sempat bertemu langsung dengan Direktur IFFR, Vanja Kaludjerčić. Dalam pertemuan itu, dia menyampaikan apresiasi atas peran IFFR sebagai rumah bagi sinema independen. Visi kuratorial festival itu, menurutnya, sejalan dengan semangat film Indonesia kontemporer yang berani mengeksplorasi isu sosial dan keragaman budaya.
Ada satu bidang kerja sama yang menarik perhatian: film sejarah. Rencananya, Indonesia dan Belanda akan memperdalam kolaborasi di area ini. Film sejarah diharapkan bisa jadi alat diplomasi budaya yang kuat. Dengan melibatkan sineas, peneliti, dan arsip dari kedua negara, narasi sejarah yang kritis dan kontekstual bisa lahir. Ini bukan sekadar mengingat masa lalu, tapi membangun pemahaman bersama untuk masa depan.
Pada akhirnya, partisipasi di IFFR ke-55 ini bukan sekadar pamer karya. Lebih dari itu, film Indonesia diharapkan bisa menjadi duta budaya yang efektif. Menyuarakan narasi khas Nusantara sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif. Pemerintah berjanji akan terus mendukung agar sineas kita makin aktif dan kompetitif di kancah dunia. Perjalanan masih panjang, tapi langkah awal di Rotterdam ini memberi sinyal yang cukup positif.
Artikel Terkait
Prabowo Gelar Rapat Maraton, Bahas Korupsi hingga Davos
Api Abadi Mrapen Padam, Api yang Konon Tak Pernah Redup Akhirnya Mati
Roy Suryo dan Dua Tokoh Lain Ajukan Gugatan ke MK untuk Revisi Pasal Karet KUHP dan UU ITE
Brimob Gagalkan Tawuran Remaja di Kramat Jati, Enam Diamankan