Iran menyatakan kesiapannya untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat. Tapi, ada satu syarat utama yang mereka pegang teguh: negosiasi harus berjalan dengan kedudukan yang setara. Tidak ada yang di atas, tidak ada yang di bawah.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap harapan Presiden Donald Trump. Menariknya, harapan untuk berunding itu diungkapkan bersamaan dengan pengiriman armada militer AS dalam skala besar ke perairan dekat Iran. Sebuah langkah yang oleh banyak pengamat disebut sebagai tekanan militer.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas menyampaikan posisi negaranya. Dia berbicara dalam sebuah konferensi pers di Turki, Sabtu lalu.
"Jika negosiasi berjalan secara adil dan dengan kedudukan yang setara, maka Republik Islam Iran siap untuk berpartisipasi," ujarnya.
Dia juga kembali menepis tuduhan selama ini. "Iran tidak pernah berupaya untuk memperoleh senjata nuklir," tambahnya.
Menurut Araghchi, Teheran sebenarnya terbuka terhadap jalur diplomasi. Namun begitu, ada garis yang jelas yang mereka tarik. Diplomasi ya, ancaman tidak. "Negosiasi tidak boleh dimulai dengan ancaman," tegasnya.
Dia melanjutkan dengan penjelasan yang cukup gamblang. Memaksakan tuntutan sebelum pembicaraan dimulai, itu bukanlah negosiasi namanya. Hasil dari sebuah perundingan, seharusnya lahir di meja perundingan, bukan ditentukan dari jauh-jauh hari.
"Iran tidak akan memasuki negosiasi apa pun yang dilakukan di bawah tekanan atau paksaan," pungkas Araghchi, menegaskan poin itu sekali lagi.
Di sisi lain, pernyataan Trump terdengar agak paradoks. Dia mengonfirmasi bahwa "armada besar" AS sedang bergerak mendekati Iran. Tapi di saat yang sama, dia berharap tercapai kesepakatan. Trump mengakhiri dengan kalimat yang terbuka, bahkan mengancam: "Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan lihat apa yang terjadi."
Jadi, situasinya seperti ini: kedua pihak bilang mau bicara, tapi dengan kondisi dan latar yang sangat berbeda. Satu sibuk mengerahkan kekuatan militer, yang lain bersikeras menolak negosiasi dengan todongan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu saja.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Terima Menpora dan Pelatih Timnas Bahas Target Lolos Piala Dunia 2030
Gempa Magnitudo 4,0 Guncang Kepulauan Sangihe, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Polri Tangkap Pengendali Keuangan Jaringan Narkoba Fredy Pratama di Malaysia
Polisi Wanita Indonesia Raih Penghargaan PBB Berkat Inovasi Digitalisasi Data Kriminal di Afrika Tengah