Menurut Araghchi, Teheran sebenarnya terbuka terhadap jalur diplomasi. Namun begitu, ada garis yang jelas yang mereka tarik. Diplomasi ya, ancaman tidak. "Negosiasi tidak boleh dimulai dengan ancaman," tegasnya.
Dia melanjutkan dengan penjelasan yang cukup gamblang. Memaksakan tuntutan sebelum pembicaraan dimulai, itu bukanlah negosiasi namanya. Hasil dari sebuah perundingan, seharusnya lahir di meja perundingan, bukan ditentukan dari jauh-jauh hari.
"Iran tidak akan memasuki negosiasi apa pun yang dilakukan di bawah tekanan atau paksaan," pungkas Araghchi, menegaskan poin itu sekali lagi.
Di sisi lain, pernyataan Trump terdengar agak paradoks. Dia mengonfirmasi bahwa "armada besar" AS sedang bergerak mendekati Iran. Tapi di saat yang sama, dia berharap tercapai kesepakatan. Trump mengakhiri dengan kalimat yang terbuka, bahkan mengancam: "Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan lihat apa yang terjadi."
Jadi, situasinya seperti ini: kedua pihak bilang mau bicara, tapi dengan kondisi dan latar yang sangat berbeda. Satu sibuk mengerahkan kekuatan militer, yang lain bersikeras menolak negosiasi dengan todongan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu saja.
Artikel Terkait
Kapolri Kukuhkan Ojol Riau Sebagai Mitra Kamtibmas dan Satgas PHK
Contraflow Diberlakukan di Tol Jakarta-Cikampek Antisipasi Puncak Arus Mudik
Wali Kota Jakarta Barat Imbau Warga Pastikan Keamanan Rumah Sebelum Mudik Lebaran 2026
Bocah 7 Tahun Terseret Arus Ditemukan Meninggal di Sungai Bendo Mongal Kediri