Di sinilah konsep "Sacred Defense" atau pertahanan suci muncul. Ini adalah strategi jitu pemerintah. Mereka meminjam memori kolektif Perang Irak-Iran (1980-1988) bukan sekadar sebagai fakta sejarah, tapi sebagai identitas sosial yang sakral.
Rakyat Iran dikonstruksi sebagai "bangsa pejuang yang dizalimi". Sementara siapa pun yang menentang negara termasuk demonstran dilabeli sebagai kaki tangan kekuatan "Satanis" dari luar.
Kampanye persuasif ini dijalankan bertahap. Pertama, lewat engagement periferal. Mereka membanjiri jalanan dengan simbol-simbol visual yang membangkitkan emosi: baliho bergambar bendera Iran digenggam erat, narasi singkat "Iran tanah air kami". Tujuannya, memicu respons nasionalisme instan, tanpa perlu argumentasi panjang.
Kedua, guided elaboration. Media massa pemerintah mulai menyiarkan dokumenter pengakuan agen yang ditangkap, pernyataan ancaman dari pemimpin seperti Donald Trump atau Benjamin Netanyahu, serta data dampak sanksi AS. Tujuannya jelas: membimbing pola pikir rakyat agar menyalahkan Barat sebagai biang krisis ekonomi.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersikap tegas. Dalam satu kesempatan, ia menyebut para demonstran anti-pemerintah sebagai pembuat onar yang hanya ingin menyenangkan Trump.
Ia menuntut Trump bertanggung jawab.
Ketiga, masuk ke fase central processing. Di sini, pemerintah mulai menyasar kelompok yang lebih kritis dan intelektual. Mereka memaparkan rencana konkret reformasi mata uang dan subsidi pangan, atau membahas skenario mengerikan seperti perang saudara. Pilihannya diajukan: reformasi lambat namun stabil, atau chaos berdarah?
Keempat, behavioral readiness. Setelah afek dan rasionalitas terbentuk, dorongan untuk bertindak diciptakan. Unjuk rasa dukungan besar-besaran difasilitasi sebagai saluran emosi masyarakat.
Televisi pemerintah menayangkan kerumunan massa pada Januari 2026 yang memadati Lapangan Enqelab. Mereka mendengarkan pidato ketua parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang mengecam intervensi Barat.
Khamenei juga memberi peringatan keras kepada politisi AS menyusul ancaman intervensi militer.
Jadi, strategi "sacred defense" ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia efektif mengonsolidasi dukungan dari basis massa loyal. Tapi di sisi lain, bagi rakyat yang perutnya keroncongan karena krisis, kampanye simbolis ini bisa terdengar tuli. Alih-alih memulihkan kepercayaan, ia justru berisiko memperdalam kebencian terhadap rezim.
Tantangan Iran di masa depan tetap sangat nyata.
Wallahu A'lam Bisshawab.
Artikel Terkait
Fadli Zon Usulkan Indonesia Spotlight di IFFR dan Percepatan Repatriasi Koleksi Raden Saleh
Jalan Salah Danasamsita Ambles, Wali Kota Bogor Tutup Akses Sementara
Misteri di Pinggir Tol: Pria Tewas di Dalam Mobil yang Masih Menyala
Genangan 1,7 Meter di Pejaten Timur, Warga: Nyelamatin Diri Aja, Bu