Sudah hampir seminggu berlalu sejak tanah longsor menghantam Cisarua. Di lapangan, upaya tanggap darurat terus berjalan. Kementerian Sosial masih mengirimkan logistik tambahan untuk mendukung para pengungsi dan relawan yang tak kenal lelah mencari korban yang masih hilang. Dapur umum yang dikelola bersama pemerintah daerah pun tetap beroperasi, memproduksi ribuan bungkus nasi setiap harinya.
Namun begitu, bantuan tak cuma soal makanan dan tempat tinggal. Ada proses lain yang juga berjalan, meski tak terlihat. Tim dari Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB) sibuk melakukan verifikasi data ahli waris korban meninggal. Ini penting untuk penyaluran santunan duka nantinya. Di sisi lain, untuk menjaga kondisi kesehatan, sebuah posko kesehatan gabungan telah didirikan oleh tim dari Sentra Wyata Guna bersama unsur terkait. Tujuannya jelas: memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi siapa saja yang terdampak, baik pengungsi maupun petugas di lapangan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa semua bantuan disalurkan secara bertahap.
Dia mengingatkan, bencana ini terjadi mendadak. Tepatnya Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, hujan lebat memicu pergerakan tanah di lereng curam Desa Pasirlangu. Puluhan rumah warga tertimbun dalam sekejap.
Angkanya cukup memilukan.
Melihat besarnya dampak, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat pun menetapkan status tanggap darurat hingga dua pekan ke depan, yaitu sampai 6 Februari 2026.
Artikel Terkait
Polri Terima Dukungan Publik sebagai Amanah Berat untuk Transformasi
Malam Tahun Baru di Depok, Brankas dan Uang Rp 21 Juta Raib Dibobol
Menteri PU Ungkap Penyebab dan Solusi Banjir Bekasi yang Tak Kunjung Surut
Ketua PAC Diduga Kelola Judi Gelap, Omset Harian Tembus Jutaan