Sudah hampir seminggu berlalu sejak tanah longsor menghantam Cisarua. Di lapangan, upaya tanggap darurat terus berjalan. Kementerian Sosial masih mengirimkan logistik tambahan untuk mendukung para pengungsi dan relawan yang tak kenal lelah mencari korban yang masih hilang. Dapur umum yang dikelola bersama pemerintah daerah pun tetap beroperasi, memproduksi ribuan bungkus nasi setiap harinya.
Namun begitu, bantuan tak cuma soal makanan dan tempat tinggal. Ada proses lain yang juga berjalan, meski tak terlihat. Tim dari Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB) sibuk melakukan verifikasi data ahli waris korban meninggal. Ini penting untuk penyaluran santunan duka nantinya. Di sisi lain, untuk menjaga kondisi kesehatan, sebuah posko kesehatan gabungan telah didirikan oleh tim dari Sentra Wyata Guna bersama unsur terkait. Tujuannya jelas: memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi siapa saja yang terdampak, baik pengungsi maupun petugas di lapangan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa semua bantuan disalurkan secara bertahap.
“Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sesuai tahapan tanggap darurat dan melakukan pendataan secara bertahap agar seluruh dukungan dapat disalurkan tepat kepada warga terdampak,” jelasnya dalam keterangan tertulis pada Kamis (29/01/2026).
Dia mengingatkan, bencana ini terjadi mendadak. Tepatnya Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, hujan lebat memicu pergerakan tanah di lereng curam Desa Pasirlangu. Puluhan rumah warga tertimbun dalam sekejap.
Angkanya cukup memilukan.
“Data sementara mencatat 34 kepala keluarga (KK) atau 113 jiwa terdampak. Jumlah pengungsi mencapai 184 KK atau 564 jiwa, yang menempati aula Kantor Desa Pasirlangu. Hingga saat ini, 37 korban meninggal dunia telah teridentifikasi, sementara 43 orang masih dalam pencarian,” tuturnya.
Melihat besarnya dampak, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat pun menetapkan status tanggap darurat hingga dua pekan ke depan, yaitu sampai 6 Februari 2026.
Untuk memastikan perut pengungsi terisi, sebuah dapur umum didirikan di SDN 1 Pasirlangu sejak 27 Januari. Kerjasama antara Kemensos, Dinas Sosial, dan Tagana ini menghasilkan produksi yang tak main-main: sekitar 2.250 bungkus makanan per hari. Bahkan, Dinas Sosial dan Tagana setempat disebutkan memproduksi sekitar 4.500 bungkus per hari untuk memenuhi kebutuhan semua pihak di lokasi.
Bantuan logistik sendiri disalurkan dalam tiga gelombang. Tahap pertama mencakup banyak hal, mulai dari tenda serbaguna, tenda keluarga, kasur, selimut, hingga ratusan paket makanan siap saji dan perlengkapan untuk keluarga dan anak-anak.
Gelombang kedua menyusul dengan tambahan paket sandang, lauk pauk, serta perlengkapan tidur lagi. Sementara tahap ketiga lebih fokus pada fasilitas pendukung, seperti satu unit dapur umum lapangan dan toilet portable.
Di balik semua distribusi bantuan itu, kerja pendataan dan asesmen terus berjalan. Tim gabungan dari berbagai level masih bekerja. Pencarian korban pun belum berhenti. Begitu pula proses mencari ahli waris dari korban yang telah ditemukan.
Secara keseluruhan, penanganan bencana ini melibatkan banyak pihak. Dari Direktorat PSKB, BBPPKS Bandung, Sentra Wyata Guna, dinas sosial provinsi dan kabupaten, BPBD, TNI-Polri, Basarnas, hingga aparat kecamatan, desa, dan tentu saja, para relawan Tagana di garis depan.
Artikel Terkait
Kebakaran Apartemen Mediterania, 19 Penghuni Dievakuasi
Golkar Tolak Usulan Yusril soal Syarat 13 Kursi DPR, Nilai Lebih Tepat untuk Pembentukan Fraksi
Perempat Final Uber Cup: Indonesia Hadapi Tuan Rumah Denmark Malam Ini
Penghuni Apartemen Mediterania Kirim Kode Darurat via Baju, 60 Orang Dievakuasi dari Kebakaran