Kenaikan harga emas beberapa tahun terakhir bisa dibaca sebagai cerminan langsung dari kegelisahan global ini. Di awal kepemimpinan Trump, harga emas masih sekitar USD 2.800 per troy ounce. Tapi, seiring eskalasi perang dagang dan ketegangan geopolitik yang tak kunjung reda, grafiknya terus merangkak naik.
Hingga awal 2026 ini, harganya sudah menyentuh kisaran USD 5.100. Lonjakan ini bukan cuma spekulasi. Ini respons rasional pasar terhadap dunia yang penuh risiko dan minim kepastian. Emas tak lagi sekadar komoditas; ia menjadi barometer kepercayaan atau lebih tepatnya, kecemasan pasar. Bahkan, bukan tidak mungkin harga akan menuju USD 6.000 jika faktor-faktor seperti potensi konflik besar dan perang dagang masih terus berlanjut.
Lantas, bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Implikasinya kompleks.
Di satu sisi, ketidakpastian global akibat kebijakan proteksionis AS berpotensi menekan ekspor, investasi asing, dan tentu saja stabilitas rupiah. Masyarakat di sini mungkin bingung, mengapa harga emas dalam rupiah bisa mencetak rekor terus, padahal permintaan fisik belum tentu melonjak drastis.
Fenomena ini sebenarnya akibat dua tekanan sekaligus. Pertama, kenaikan harga emas global dalam dolar AS. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Saat ketidakpastian global tinggi, dolar menguat sebagai mata uang aman, sementara emas juga naik sebagai safe haven. Hasilnya? Harga emas dalam rupiah mendapat double shock.
Alhasil, harga emas domestik bukan cuma merefleksikan nilai logam mulianya, tapi juga ketegangan global dan kerapuhan nilai tukar kita. Ini nyata terlihat dari harga emas Antam per 26 Januari yang sudah nyaris menyentuh angka Rp 3 juta, tepatnya Rp 2,9 juta.
Satu tahun kepemimpinan Trump yang kedua ini mengajarkan satu hal: ketidakpastian global bukanlah takdir. Ia adalah produk dari pilihan kebijakan dan gaya kepemimpinan. Data WUI dan lonjakan harga emas adalah bukti nyata bagaimana pasar bereaksi terhadap dunia yang sulit ditebak.
Dalam gelombang ketidakpastian ini, emas menjadi cermin kegelisahan global. Bagi Indonesia dan negara berkembang lain, pelajaran berharganya jelas: yang penting bukan meniru gaya negara besar, tapi membangun stabilitas internal, kredibilitas kebijakan, dan kepercayaan jangka panjang. Pada akhirnya, di tengah dunia yang goncang, stabilitas bukan sekadar tujuan. Ia adalah aset strategis yang paling berharga.
R Audi Cahya Lucky Ramadhan. Dosen Bisnis Digital di STIE Mahardhika dan mahasiswa S3 Ilmu Manajemen di Universitas Airlangga.
Artikel Terkait
Banjir Rendam 41 Desa di Bekasi, Ribuan Warga Mengungsi
Kantor Wali Kota Madiun Digeledah KPK, Kasus Fee Perizinan Kian Menguat
Kapolri Teken MoU Distribusi Pupuk, Targetkan Kerugian 100 Triliun Tak Terulang
Projo Tolak Wacana Polri Dibawah Kementerian, Khawatirkan Matahari Kembar