Tanggal 20 Januari 2025, Donald Trump resmi dilantik untuk kedua kalinya sebagai Presiden Amerika Serikat. Kini, memasuki Januari 2026, kita telah melewati satu tahun penuh kepemimpinannya. Dan harus diakui, tahun pertama ini benar-benar mengubah peta ekonomi dan politik dunia.
Dunia yang dulu terasa lumayan stabil, tiba-tiba diguncang oleh serangkaian kebijakan yang sulit ditebak. Perang dagang kembali mengemuka, retorika geopolitik mengeras, dan komitmen AS terhadap berbagai perjanjian internasional pun dipertanyakan. Bagi pasar keuangan, semua ini bukan cuma isu politik belaka. Ini adalah sumber ketidakpastian yang langsung mempengaruhi keputusan investasi.
Nah, soal ketidakpastian ini, para ekonom punya alat ukurnya. Namanya World Uncertainty Index (WUI). Indeks ini dirancang untuk menangkap frekuensi dan intensitas ketidakpastian dari laporan ekonomi berbagai negara. Data WUI menunjukkan sesuatu yang menarik: sejak Trump kembali berkuasa, angka ketidakpastian global melonjak dan bertahan di level tinggi. Kebijakan-kebijakan tak lazim dan kerap berubah arah itu rupanya meninggalkan jejak yang dalam.
Angkanya cukup mencengangkan. Normalnya, WUI berkisar antara 15.000 sampai 40.000. Saat pandemi, ia melonjak ke 55.000. Nah, di awal Trump menjabat Januari 2025, angkanya sudah 41.383,2. Lalu meroket hingga mencapai puncak 122.422,5 pada September 2025, sebelum akhir Desember bertengger di 90.758,1. Kalau kita lihat ke belakang, periode kepemimpinan Trump pertama (2017-2021) juga diwarnai kenaikan WUI. Ini memunculkan pertanyaan besar: benarkah Donald Trump adalah aktor utama di balik meningkatnya ketidakpastian global?
Pertanyaannya kemudian bukan cuma soal naik-tidaknya angka indeks. Lebih dari itu, kebijakan apa yang memicunya? Dan seberapa besar peran gaya kepemimpinan Trump dalam membentuk lanskap yang serba tak pasti ini?
Agenda "America First" menjadi motor penggeraknya. Dalam implementasinya, agenda itu diterjemahkan ke dalam tarif impor yang agresif, peninjauan ulang perjanjian dagang, dan tekanan terbuka kepada mitra-mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Uni Eropa. Gaya transaksionalnya bahkan terlihat dari wacana yang sempat mengemuka: keinginan AS untuk "membeli" Greenland dari Denmark. Sebuah pendekatan yang jarang terdengar dalam diplomasi modern.
Di sisi lain, ancaman untuk menarik diri atau menegosiasi ulang komitmen terhadap organisasi internasional dari NATO sampai kesepakatan iklim terus bergulir. Yang bikin pasar semakin nervous, perubahan kebijakan ini kerap diumumkan secara mendadak, lewat pernyataan publik di media sosial. Kombinasi mematikan antara proteksionisme, diplomasi transaksional, dan inkonsistensi inilah yang melemahkan prediktabilitas dunia. Dan akhirnya, memicu ketidakpastian.
Lalu, bagaimana pasar keuangan menyikapinya? Saat ketidakpastian membubung tinggi, perilaku investor berubah total.
Mereka jadi lebih berhati-hati. Aset berisiko seperti saham dan mata uang negara berkembang mulai dihindari. Modal pun mengalir deras ke aset yang dianggap aman, atau safe haven. Banyak penelitian, seperti dari Baur & McDermott (2016) hingga Hao & Li (2025), menunjukkan pola yang konsisten: saat ketidakpastian global melonjak, permintaan terhadap aset lindung nilai ikut naik.
Logikanya sederhana. Ketika arah kebijakan tak bisa ditebak dan risiko geopolitik menguat, tujuan utama bukan lagi mencari untung besar, tapi menyelamatkan kekayaan. Dalam situasi seperti inilah emas kembali menunjukkan taringnya.
Artikel Terkait
Banjir Rendam 41 Desa di Bekasi, Ribuan Warga Mengungsi
Kantor Wali Kota Madiun Digeledah KPK, Kasus Fee Perizinan Kian Menguat
Kapolri Teken MoU Distribusi Pupuk, Targetkan Kerugian 100 Triliun Tak Terulang
Projo Tolak Wacana Polri Dibawah Kementerian, Khawatirkan Matahari Kembar