Di lapangan, kerja mereka terbagi dalam dua sasaran. Sasaran fisik jelas terlihat: normalisasi jalan yang ambles, pembersihan lumpur dan material kayu dari pemukiman warga, hingga rekonstruksi awal untuk rumah, sekolah, dan rumah ibadah yang rusak. Alat berat pun dikerahkan untuk pekerjaan-pekerjaan berat.
Sementara itu, di sisi nonfisik, upayanya lebih halus namun tak kalah penting. Mereka memberikan trauma healing, mengelola dapur umum sambil memberi edukasi gizi, hingga membantu sekolah-sekolah darurat. Bahkan, ada juga bantuan sosial dan kegiatan mengaji, mengingat beberapa taruna merupakan tahfiz Al-Qur'an.
"Edukasi bagi anak-anak guna menjaga semangat belajar dan pemulihan psikologis pasca bencana," sambung Evon.
Lokasi kegiatannya tersebar di sejumlah titik vital. Mulai dari SD Inpres Kota Lintang, beberapa TK, polindes, kantor datuk, hingga ruas-ruas jalan utama seperti Jalan Cut Mutia dan pemukiman di Desa Amalia. Pasar Bawah Kuala Simpang juga jadi salah satu fokus.
Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Evon melaporkan, beberapa fasilitas seperti masjid dan fasilitas kesehatan sudah bersih dan bisa digunakan. Meski begitu, sebagian besar pekerjaan masih berjalan, dengan banyak lokasi baru terselesaikan sekitar lima puluh persen.
"Mudah-mudahan bisa membantu percepatan pemulihan di Aceh, terutama Aceh Tamiang," pungkasnya penuh harap.
Di balik seragam dan latihan militer, yang terjadi di Aceh Tamiang adalah sebuah aksi nyata. Para taruna itu tak hanya mempelajari peta, tapi juga merasakan langsung denyut nadi masyarakat yang mereka layani. Dan bagi warga yang terdampak, kehadiran mereka mungkin adalah secercah harapan yang sangat dibutuhkan untuk bangkit kembali.
Artikel Terkait
Jalan KS Tubun Ditutup, Film Korea Extraction: Tygo Syuting di Karawaci
Kaesang Buka Rakernas PSI di Makassar, Jokowi Dijadwalkan Tutup Acara
DPR Ingatkan Pemerintah: WNI Pelaku Scam di Kamboja Tak Boleh Dibebaskan Sembarangan
Kali Cakung Meluap Lagi, Ratusan Rumah di Cakung Terendam Air Cokelat