Marsekal Madya TNI M Syafi'i, sang Kepala Basarnas, baru saja membeberkan kronologi jatuhnya pesawat Smart Air tipe Caravan itu. Insidennya terjadi di perairan pantai Nabire, Papua Tengah. Menurut penjelasannya, semuanya berawal dari sinyal darurat.
"Kira-kira jam 12 siang, sistem ELT atau Emergency Locator Transmitter dari pesawat aktif mengirim sinyal distress," ujar Syafi'i.
Dia menyampaikan hal ini di Senayan, Jakarta, Selasa lalu, usai mengikuti rapat dengan Komisi V DPR. Sinyal darurat itu, lanjutnya, langsung terpantau oleh sistem monitoring Basarnas. Dari situlah kemudian komando penyelamatan dikerahkan.
Penerbangan itu sebenarnya adalah misi rutin yang berangkat dari Nabire. Tapi di tengah jalan, pilot merasa ada yang tidak beres. Bukan main-main, sang pilot pun memutuskan untuk balik ke bandara asal.
Namun begitu, nasib berkata lain. Dalam proses kembali itu, mesin pesawat mendadak kehilangan tenaga. Dayanya drop.
"Karena kehilangan power, pilot terpaksa melakukan ditching di perairan. Lokasinya di danau atau perairan dangkal, sebelum sempat mencapai bandara," jelas Syafi'i lebih lanjut.
Kabar baiknya, semua orang selamat. Syafi'i mengungkapkan rasa syukur bahwa seluruh 13 orang di pesawat, baik kru maupun penumpang, berhasil dievakuasi dengan selamat.
Soal penyebab pasti insiden ini, dia memilih untuk menyerahkan sepenuhnya kepada KNKT. Investigasi mendalam pasti akan dilakukan oleh otoritas yang berwenang.
Artikel Terkait
Jemaah Haji Indonesia Manfaatkan Fasilitas Air Zamzam Gratis di Area Masjid Nabawi
Menteri PPPA Disindir Usul Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, Pakar Psikologi Forensik Sebut Absurd
Warga Swedia Ditemukan Tewas Usai Jatuh ke Jurang Sedalam 30 Meter di Ubud
Menhub Sebut Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Jadi Pelajaran Penting untuk Evaluasi Total Keselamatan Perkeretaapian